Membedah “Self-Care Bukan Egoisme”
Meluruskan Logika “Orang Baik Yang Menjadi Jahat Karena Tersakiti”
Sering kali kita mendengar premis bahwa ketika seseorang sudah lelah terhadap dunia namun tidak mendapat timbal balik, ia akan menjadi tidak acuh. Ketika seseorang terlalu banyak memberi namun tak berbalas, ia akan enggan memberi lagi. Begitu pula saat seseorang terlalu peduli pada sesama namun tidak dipedulikan, ia cenderung berbalik menjadi mementingkan diri sendiri.
Logika yang banyak dipakai manusia hari ini adalah jenis logical fallacy (kesesatan berpikir) yang serupa dengan yang disusupkan dalam film Joker, yaitu: “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”.
Dalam ilmu psikologi, ini adalah logika yang keliru—di mana sifat seseorang dianggap bergantung pada perilaku orang lain kepadanya.
Logika yang sebenarnya adalah: orang baik akan tetap baik meski orang lain berbuat jahat. Kebaikan seseorang tidak semestinya luntur hanya karena keberadaan orang yang jahat.
Dalam kerangka berpikir Islam, kerangka berpikirnya jauh lebih mulia.
Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap peduli pada dunia meski beliau disakiti, ditinggalkan, dan kehilangan banyak orang tercinta. Di tengah kekecewaan luar biasa terhadap manusia, beliau masih bisa berempati pada seekor burung kecil yang gelisah karena kehilangan anaknya.
Lihatlah pula bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu menikmati shalat hingga ingin berlama-lama di dalamnya. Namun, ketika mendengar tangisan bayi saat beliau menjadi imam, beliau mempercepat shalatnya karena peduli pada perasaan ibu dari bayi tersebut. Kecintaan beliau terhadap ibadah tidak menjadikannya buta pada lingkungan sekitar, melainkan memberi energi untuk kepedulian yang lebih luas.
Self-Care vs Egoisme
Self-care bukan berarti egois. Self-care bukan berarti mementingkan diri sendiri lalu abai pada orang lain, melainkan upaya memperkuat diri agar bisa menjadi lebih bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain secara lebih luas.
Logika yang sama dengan prosedur keselamatan dalam dunia aviasi: “pasanglah masker oksigen pada diri sendiri terlebih dahulu, baru kemudian kepada anak”. Ini bukan egois, melainkan inilah self-care. Sebab, jika Anda pingsan, Anda tidak akan bisa menolong siapa pun.
Islam pun mengajarkan urutan yang serupa: "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (Dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, baru orang lain).
Dari sini kita memahami bahwa mereka yang terlalu sibuk menilai atau ingin memperbaiki orang lain, namun lalai terhadap diri dan keluarganya, justru adalah orang-orang yang egois.
Self-care itu bukan membela diri sembari menyalahkan orang lain, bukan merasa lebih baik dari sesama, bukan pula melarikan diri dari dunia. Self-care adalah cara seseorang menguatkan diri agar mampu menata hidup dengan tenang dan hati yang tetap utuh.
Self-care bukan tentang menjauh atau memutus tali kekerabatan, melainkan cara memulihkan jiwa agar manfaat yang ditebar bisa lebih banyak; agar ketika seseorang berbuat baik, ia tidak runtuh oleh kelelahan dari dalam dirinya sendiri.
Wallahu a’lam.
Sebagian dari kita mungkin menganggap hal-hal tertentu sebagai klenik atau mistis, padahal sebenarnya itu adalah respons alami dari otak dan tubuh manusia.
1. Masuk Angin
Sering dianggap sebagai “angin yang masuk ke tubuh”, padahal yang sebenarnya terjadi adalah infeksi virus influenza yang mulai menyerang. Rasa tidak nyaman, tubuh hangat, dan pegal adalah tanda bahwa sistem imun sedang bekerja melawan virus tersebut. Istirahat yang cukup, konsumsi makanan bergizi, dan obat pereda nyeri sudah cukup membantu. Antibiotik tidak diperlukan, karena justru dapat mengganggu fungsi imun, kecuali jika demam mencapai di atas 39°C, maka dukungan obat tambahan dapat dipertimbangkan.
2. Angin Duduk
Sering dianggap angin yang berdiam pada “ulu hati”, pada organ dalam tubuh, yang menyumbat dan tidak bisa berjalan keluar atau masuk. Padahal itu adalah penyempitan pembuluh darah jantung akibat tumpukan lemak jahat, dari apa yang dia masukkan kedalam mulutnya, tersumbatnya aliran darah pada pembuluh darah jantung. Hindari makanan berlemak tinggi, gorengan, minyak, gula, dan sejenisnya. Perbanyak olahraga kardio vascular, jalan kaki, jogging ringan, hingga mendaki gunung dan lainnya. Misalkan jika sudah kronis bisa dengan operasi “bypass” (membuat saluran pembuluh darah baru), angioplasti atau melebarkan luas pembuluh darah dengan pemasangan robot balon mikro yang melebarkan pembuluh darah yang sempit, bukan minum obat penahan nyeri.
3. Ketempelan
Sebagian kita mempercayai bahwa itu sedang ditempel oleh makhlus halus, padahal didalam ilmu psikologi itu didefinisi sebagai “panic dissalocation”, respon terhadap panik pada tubuh, dada berat, badan lemas, bahkan suara hilang, itu karena sistem syarat yang sedang overload.
4. Ketindihan
Padahal itu “sleep paralyze”, otak sudah bangun namun badan belum aktif, sensasinya seperti stroke, otak sadar tapi tidak bisa menggerakan beberapa anggota badan.
5. Melihat Bayangan Putih/Hitam
Dianggap sedang melihat kuntilanak, jin dan sebangsanya, padahal itu disebut “hipervigilance”, otak yang terlalu waspada karena stress tertentu, sehingga memproyeksikan ancaman yang tidak ada.
6. Bisikan/Suara Ghaib
Tubuh seperti mendengar suara bisikan, suara nafas, suara pintu terbuka/tertutup, langkah kaki, suara binatang atau suara familiar lain namun tidak bisa terjelaskan. Padahal itu “intrusive thought”, respon otak tiba-tiba ketika cemas berat, ketakutan, kelelahan, kurang tidur, atau trauma (dibangun ketakutan), sehingga otak seakan merelasisasikan suara-suara dengan pengamalan atau pengetahuan yang sebelumnya.
7. Kerasukan (massal)
Banyak yang menganggap ini gangguan makhluk halus, padahal ini “mass hysteria”, emosi yang menular, satu orang yang panik dan melakukan sesuatu dengan tidak sadar, maka kemudian kepanikan itu bisa menular, dan orang lain bisa meniru melakukan sesuatu tanpa sadar.
8. Benda Bergerak Sendiri
Jelas ini pasti kelakukan makhluk halus! padahal itu disebut “poltergeist seletive attention”, perhatian berlebih, ditambah angin, ditambah histori narasi, kemudian otak menyambungkannya menjadi kejadian “gaib”.
9. Tempat Keramat
Orang takut karena mendengar cerita mistis, padahal ada sistem diotak kita yaitu “confirmation bias” dimana kalau seseorang mempercayai ketakutan akan sesuatu hal, maka dia akan mencari-cari bukti untuk menguatkan atau membenarkan ketakutannya.
_____
Orang-orang yang tidak tau (bodoh), belum berpengetahuan, akan mencari-cari definisi berdasarkan logikanya sendiri, atau logika orang lain, padahal definisi berdasarkan logika semata kebanyakan adalah salah, karena kerangka logika manusia pada dasarnya adalah cacat, kecuali seseorang tersebut memiliki kemampuan merangkai kerangka pikir, kecuali dia tau mekanisme cara berpikir.
80% hal mistis itu bukan ghaib, kamu saja yang tidak memiliki pengetahuannya. 80% hal mistis itu bisa dijelaskan secara _scientis_ atau klinis, sedangkan 20% memang benar adalah hal ghaib, yang mana perihal alam ghaib memang tidak bisa dibuktikan secara fisik selama masih di alam nyata (semisal malaikat, iblis, alam kubur, akhirat dan lainnya).
*************************
Saya coba tambahkan 1 lagi :
10. “Salafi, Ahlussunnah (Aswaja)”
Sebagian dari kita kaum muslimin, merasa seorang adalah seorang salaf, padahal khalaf. Mereka mengistilahi diri mereka “Salafi”, padahal jika mereka bercermin, mereka sangat jauh dari definisi itu yaitu : Para Sahabat, padahal mereka lebih dekat dan mirip Sururi, Hizbi, Haroki atau Ikhwani.
Sebagian merasa mereka adalah bagian dari “Ahlussunnah wal Jamaah” (Aswaja), atau orang-orang yang sudah benar melakukan tuntunan (sunnah) dalam agama, padahal yang mereka ikuti adalah “ahlulhawa” (pengikut hawa nafsu), padahal yang mereka ikuti “ahlulbid’ah” (pengikut pemahaman baru dalam beragama).
_____
Orang-orang yang tidak tau (bodoh), tidak berpengetahuan, atau belum berpengetahuan dengan benar, akan membuat definisi sendiri, akan mengaku-ngaku sendiri, akan mengklaim, berdasarkan isi kepala yang padahal masih ala kadarnya, atau dia mengikuti apa yang diikuti banyak orang, dia menganggap kebenaran adalah apa yang dilakukan banyak orang, padahal yang diikutinya itu adalah orang bodoh, yang kemudian dia membodohi banyak orang lain selain dirinya, padahal apa yang dipahami dan dilakukan kebanyakan orang biasanya adalah kesalahan, kekeliruan atau kesesatan.
-> Orang-orang seperti ini, kelak dihari kiamat akan berdiri di barisan pengikut Nabi namun kemudian diusir, karena yang diikutinya selama didunia bukanlah Nabi.
-> Orang-orang seperti ini kelak dihari kiamat akan berdiri dibarisan Ustadz/Kyai/Gus atau junjungannya, mereka akan berdiri dibarisan ketua organisasinya, akan berdiri pimpinan kelompoknya-kelompoknya.
-> Orang-orang seperti ini kelak di Hauts akan duduk-duduk dipinggir telaga bersama orang-orang shalih pengikut Nabi shallallahu alaihi wasalalm, namun kemudian diusir oleh para malaikat, namun terusir dari telaga, karena selama di dunia yang diikutinya bukanlah Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena idola mereka bukanlah Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Dan diantara kelak yang terusir itu,
bisa jadi adalah kamu. 🫵
..Wallahu a’lam..
Kenapa pernyataan “Kalau tidak kaya, jangan bicara tentang kecerdasan finansial” adalah pernyataan yang keliru?
Atau pernyataan serupa seperti:
*************************
1. Ad Hominem
Menyerang pribadi seseorang, bukan argumennya, adalah bentuk cacat logika ad hominem. Karena status kaya atau miskin tidak otomatis menentukan benar atau salah.
2. Data lebih penting dari “isi rekening”
Data berada di atas gelar, jabatan, status sosial, atau kekayaan seseorang.
Kebenaran datang dari data, fakta, logika, rasionalitas, dan kecerdasan berpikir — bukan dari isi rekening atau selembar ijazah.
3. Kebenaran milik semua orang
Argumen berbasis data dan fakta yang valid boleh dinarasikan oleh siapa pun.
Kebenaran bukan milik orang kaya, bukan milik pengacara, bukan milik dokter, bukan milik ustadz, bukan milik orang yang bergelar, dan bukan hak eksklusif orang dengan jabatan tertentu.
4. Ahli tidak harus “kaya”
Banyak dosen ekonomi hidup sederhana, namun lebih ahli dibanding influencer motivasi kripto. Banyak dokter jarang ke gym, sementara orang awam lebih disiplin menjaga kesehatan. Banyak pengacara dan ahli hukum justru melanggar hukum.
-> Banyak Nabi dan ulama tidak memiliki gelar akademik tinggi, dibanding mahasiswa lulusan S3 dari luar negeri.
-> Banyak Nabi hanya memiliki sedikit pengikut, dibanding ustadz YouTube dengan ratusan ribu atau jutaan followers.
-> Banyak Nabi dan Rasul tidak kaya, tidak bergelar, dan tidak dihormati masyarakat, dibanding tokoh sesat yang justru diagungkan.
5. Bahaya menutup narasi
Jika hanya orang kaya, bergelar, atau berstatus tinggi yang dianggap berhak menyampaikan kebenaran, maka akar masalah akan tumbuh. Kebenaran akan hilang, kritik akan dibungkam, dan solusi akan runtuh satu per satu.
*********************
Berhentilah berpikir bahwa “kiblat” kebenaran terletak pada status finansial, status akademis, atau status sosial seseorang. Kebenaran terletak pada argumentasi berbasis data dan fakta.
Jika kamu masih “bersujud” menghadap seseorang berdasarkan status finansial sesorang, status akademis seseorang, status masyarakat seseorang, ini adalah kabar baik, selamat! Kamu menderita cacat logika, cacat pikir, segeralah memperbaikinya, atau kecacatanmu akan merugikanmu, bahkan bisa saja merugikan kepada banyak orang lain.
..Wallahu a’lam..
Kenapa produk Apple jarang memberikan diskon?
Bagi sebagian kalangan, Apple terkenal dengan harganya yang “mahal”, Apple juga terkenal jarang memberi diskon besar-besaran.
Ketika brand lain berlomba-lomba membanting harga, Apple justru mempertahankan harganya. Kenapa begitu?
1. Apple membangun nilai, bukan harga
Apple menawarkan nilai dan pengalaman, bukan sekadar fitur atau produk. User experience dan user interface yang dirancang sangat eksklusif, dibalut dengan harga premium yang membuatnya terasa pantas dimiliki—meski tidak semua orang mampu membelinya.
2. Menghindari “perang” dengan kompetitor
Memberikan diskon atau menjual dengan harga murah dapat memicu perang harga dan persaingan dengan banyak kompetitor di kelas di bawahnya. Apple menghindari strategi itu dengan berfokus pada inovasi dan penguatan ekosistem internal—bukan sekadar menjadi murah agar semua orang bisa membeli atau supaya produknya cepat laku.
3. Memberi rasa aman
Pemilik Apple merasa percaya diri karena produk mereka jarang didiskon. Hal ini membangun kepercayaan, menjaga nilai, serta memberikan rasa dihargai dan keamanan bagi pemiliknya.
4. Segmen khusus
Jarangnya diskon membuat produk Apple menjadi sangat tersegmentasi. Sebab, ketika sebuah produk terlalu mudah dibeli karena diskon, ia kehilangan eksklusivitas dan tidak lagi terasa istimewa.
5. Kontrol supply chain
Harga yang tinggi memberi Apple kemampuan untuk menguasai penuh desain, material, marketing hingga distribusi, tanpa intervensi atau manuver dari pihak lain.
_____
Mindset yang sama dimiliki dan dipergunakan Luxurious Brand lain, misalnya Ferarri, Lamborghini, Mercy, BMW, Tesla, Xpeng, Patek Phillipe, Richard Mille, Rolex, dan beberapa lainnya.
❎ Ternyata Apple tidak menjual HP
✅ Tetapi user experience dan ekosistem
❎ Ternyata Rolex tidak menjual jam
✅ Tetapi status
❎ Ternyata Ferarri tidak menjual mobil
✅ Tetapi achievement
❎ Ternyata Nike tidak menjual sepatu
✅ Tetapi motivasi
❎ Ternyata McD tidak menjual burger
✅ Tetapi family happiness
*************************
Tetapi ini bukan tentang Apple,
Tetapi ini bukan tentang barang,
Tetapi ini bukan tentang dagang,
Tetapi tentang bagaimana kita beragama.
Dari sini kita akan mengerti bahwa “Manhaj Salaf” tidak menjual agama apalagi dengan harga yang murah, dari sini kita akan mengerti, bahwa “Manhaj Salaf” tidak kenal dengan istilah “banyak diskon”.
Dari sini kita akan mengerti bahwa “Manhaj Salaf” sangat ekslusif, hanya 1 dari total 73 golongan/kelompok yang memilikinya, hanya 1 dari 1000 orang yang bisa mendapatinya, dimana tidak semua orang bisa memilikinya.
Dari sini kita akan tau bahwa “Islam” bukan sekadar status pada kartu identitas, “Muslim” bukan sekedar kata yang mengisi kolom Curiculum Vitae. Melainkan “Manhaj Salaf” atau “Salafi” adalah cara beragama sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, yang terbaik, yang pemahaman beragama meraka dijamin benar dan digaransi Surga oleh Allah Azza wa Jalla, serta mereka para kaum muslimin yang benar-benar mengikuti mereka dalam rangka pemahaman dan cara beragama.
_____
Dari sini kita tau, jika agama dijual atau bisa dibeli dengan harga yang murah maka itu bukanlah “Manhaj Salaf”.
Dari sini kita tau, jika dalam rangka beragama ini kita dapati dengan meminta atau diberi banyak diskon, maka itu bukanlah “Manhaj Salaf”, bukanlah “Salafi”.
Dari sini kita tau, jika dalam rangka beragama ini kita mudah mendapatinya, banyak orang yang memilikinya, ramai yang mengakuinya. Maka jangan-jangan kita masuk kepada kelompok yang banyak (yang 72, yang 999) bukan yang 1, jangan-jangan yang ada pada diri kita bukan pemahaman beragama yang dimiliki dan dipahami oleh Nabi shallallahu wasallam dan para sahabatnya, bukan “Manhaj Salaf”, bukan “Salafi”.
*************************
Mindset yang sama ada pada filosofis ATOMM’S (menitijalanlurus) dimana tidak semua orang bisa ada didalamnya, tidak menjual agama ini apalagi terlebih dengan harga yang murah, tidak mendiskon agama ini, memberi rasa aman dari orang-orang yang mengaku beragama Islam, mengklaim ber-“Manhaj Salaf” atau “Salafi” namun berpemahaman secara sembarangan, memberi “user experience” bermanhaj Salaf yang sebenarnya, menjadi seorang Salafi yang benar, menjadi Muslim yang sebenarnya. Tanpa intervensi atau manuver dari kelompok atau kepentingan duniawi apapun. Manfaatkan kesempatan “free trial” ini dengan baik.
_____
Tetapi sebagaimana Apple, terkhusus pengguna Iphone, jangan jumawa dan puas diri dengan “Iphone 3”, karena saat materi ini dibuat, kini Iphone sudah versi 17 Pro Max.
Tetapi sebagaimana seorang Muslim, terkhusus yang mengaku bermanhaj salaf, mengaku seorang “Salafi”, jangan jumawa dan puas dengan jenggot dan celana cingkrang, karena seorang Muslim sebenarnya adalah mereka yang benar-benar mengikuti keseluruhan cara dan pemahaman beragama sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat.
Dimana ketauhilah, seseorang yang memiliki pemahaman beragama sebagaimana mereka, amat sangat jauh lebih nikmat dibandingkan seseorang yang memiliki handphone Apple Iphone 17 Pro Max.
..Wallahu a’lam..
Kenapa gunting di beberapa barbershop harganya sangat mahal?, bahkan bisa sampai $900 atau sekitar Rp30.000.000. Padahal itu hanya perkara “gunting” untuk mencukur rambut yang jasanya hanya dihargai Rp20.000 - Rp30.000).
_____
Kenapa cukur rambut hanya dianggap “cukur rambut”? Padahal itu tentang menghargai kepala seseorang yang merupakan anggota tubuh paling penting dan paling terhormat.
Mesin ideal barbershop memiliki harga $145 atau sekitar Rp2.000.000. Hairdryer ideal barbershop memiliki harga $225 atau sekitar Rp3.000.000. Kursi cukur ideal barbershop memiliki harga $850 atau sekitar Rp13.000.000. Gunting ideal barbershop memiliki harga $900 atau sekitar Rp30.000.000 (belum termasuk shipping). Hal tersebut merupakan simbol seberapa penting dan seriusnya perihal kepala seseorang, itu merupakan bentuk penghormatan untuk kepala seorang manusia agar seseorang tau bahwa dia sedang dihargai.
Beberapa barbershop pada umumnya bisa saja membuka 10-20 cabang dengan target pasar dan pelanggan lebih banyak yang menghargainya dengan harga Rp20.000 - Rp30.000 sekali cukur. Akan tetapi tidak bagi barbershop yang memahami filosofi kepala manusia dan menghargai kepala seorang manusia.
Harga bukan sekadar angka yang tertera pada sebuah nilai, tetapi cara kita memberikan value kepada seseorang—sebagai bentuk penghormatan atas dirinya, dan tanda bahwa ia layak untuk dihargai.
Nilai lahir dari waktu yang dihabiskan untuk belajar, memahami, dan mengumpulkan pengetahuan serta pengalaman. Dari sanalah tumbuh penghargaan terhadap kepala seseorang, dan pada akhirnya, penghargaan kepada sesama manusia.
************************
Kenapa dalam ranah agama terdapat beberapa dai yang sibuk sekali membahas dan mendakwahkan tauhid?. Padahal itu bahasan dasar, membosankan, biasanya sepi jamaah, dan tidak dihargai sebagaimana mestinya?
_____
Kenapa dakwah tauhid dianggap bahasan dasar? Padahal itu tentang menghargai dan mengisi kepala seseorang dengan pemahaman paling bernilai mahal dan penting.
Teologi dibahas dengan literatur yang tinggi, istilah yang sulit, dan memiliki kurikulum serta metode yang berat. Filosofi dan analogi dipergunakan untuk memudahkan dalam memberi pemahaman terhadap isi kepala seseorang. Hal tersebut adalah sebuah simbol seberapa penting dan seriusnya pemahaman di dalam kepala seseorang, padahal itu adalah bentuk penghormatan kepada fitrah seseorang, agamanya, dan Rabb-Nya, agar seseorang memahami apa yang paling penting dan paling berharga bagi dirinya, dimana semestinya dia menyadari bahwa sebenarnya dia sedang dihargai.
Sebagian dai hari ini dapat ditemui membuat pengajian yang dibalut dengan “lawakan”, menggelar panggung shalawatan di pinggir jalan hingga menimbulkan kemacetan, atau mengadakan kajian seputar bahasa, rumah tangga, budaya, dan tema-tema populer yang dikemas seolah-olah sebagai ilmu agama—padahal tidak berkaitan langsung dengan inti ajaran beragama. Ada yang menjajakan ilmunya secara murah dari rumah ke rumah, mengikuti undangan masjid lalu menyampaikan materi sesuai arahan DKM, hadir di berbagai podcast dan berbicara mengikuti keinginan host atau trend algoritma YouTube, hingga mengadakan kajian berbayar di hotel dengan topik yang disesuaikan selera EO atau jamaah, dan akhirnya menjual ilmu agama dengan harga yang bisa dinegosiasikan.
Namun, semua itu tidak akan dilakukan oleh dai yang benar pemahaman agamanya, yang memahami nilai luhur ilmu, yang menghargai martabat isi kepala manusia, serta menjaga kehormatan jamaah dan ilmu itu sendiri.
*************************
Kenapa harus membahas tauhid yang merupakan perkara sulit dengan bahasa yang rumit dan pembahasan yang banyak tidak disukai oleh banyak orang?
Kenapa tidak berdakwah dengan cara yang mudah dan “harga” yang “murah” saja, sesuai “target pasar”, agar semua orang bisa dengan mudah “membelinya”?
Karena seorang dai dengan pemahaman yang benar, akan menghargai seseorang, menghargai isi kepala seseorang, bukan dengan “harga” yang murah, namun dengan nilai yang diberikannya.
Karena dai dengan pemahaman yang benar, tidak akan menghina kepentingan akhirat seseorang, tidak akan membunuh kecerdasan seseorang, tidak merendahkan ilmu dan pemahaman yang diberikannya kepada seseorang, tidak dengan harga yang murah, tidak dengan men-“diskon” dakwah, tidak dengan menyederhanakan dakwah yang disampaikannya, sesuai dengan kemauan jamaahnya dan menukarnya dengan harga yang murah.
_____
Bersyukurlah, jika bahasan agamamu sibuk dengan perkara tauhid, sibuk perkara pondasi mendasar yang fundamental dalam bangunan beragama, yang literaturnya sulit, yang metode dan kurikulumnya berat, filosofi dan analogi yang dipergunakan memerlukan keseriusan dan kesungguhan untuk memahaminya. Karena itu merupakan tanda kamu sedang dihargai dengan mahal, yaitu apa yang diberikan dan itu masuk menjadi pemahaman di dalam kepalamu, terlebih terkait urusan agama, kepentingan akhiratmu.
Bersyukurlah, jika bahasan agamamu adalah tauhid, dengan pembahasan yang sulit, karena itu tanda isi kepalamu sedang dihargai. Terlebih, kamu mendapati dai-dai yang membahas tauhid dengan bahasa yang telah dipermudah, analogi yang telah dipermudah, demi menyesuaikan level intelektualitasmu.
..Wallahu a’lam..
Apakah kamu tahu, bahwa berpikir itu ada caranya, logika itu ada kerangkanya? Mari kita bahas secara versi singkat dan ringan.
Kita ambil sebagai sampel, cara berpikir dari salah satu pejabat (anggota DPR), tentang akar logika “Gerbong kereta khusus untuk tempat merokok”.
Premis yang dipakai :
* Penumpang bosan
* Penumpang butuh ruang merokok
* Analogi dengan penumpang bus
* Kalau ada gerbong rokok, nyaman
* Kalau ada gerbong rokok, tambah pemasukan
Cara berpikirnya :
* Asumsi masalah : bosan di perjalanan
* Solusi yang ditawarkan : rokok
* Konsekuensi yang dibayangkan : kenyamanan dan keuntungan finansial
Kesalahan Logika :
* False Cause (sebab akibat keliru)
Bosan di perjalanan tidak otomatis diselesaikan dengan rokok. Seharusnya dimasukkan variabel lainnya, ada banyak penyelesaian lain, semisal WI-FI, netflix, streaming, dll.
* False Analogy (analogi keliru)
Membandingkan kereta dengan bus, tidak “apple to apple”, ada perbedaan rute, kecepatan, ruangan, regulasi dan lain sebagainya. Dimana seharusnya perbandingan yang ideal antara kereta dengan kereta.
* Ignoring Harm (pengabaian dampak berbahaya)
Rokok memiliki externality besar, finansial, kebersihan, kesehatan, keselamatan, yang mana itu “di-skip” atau “slip” di dalam logikanya.
* Partial Benefit (keuntungan sebagian namun kerugian pada bagian yang lain, atau untung pada jangka pendek (scoop kecil) namun rugi pada jangka panjang (scoop besar)).
Fokusnya seakan pada pemasukan KAI, padahal keinginan perokok untuk merokok di kereta. Dimana fokus utama yang sebenarnya adalah kenyamanan, keselamatan, kesehatan, ekonomi finansial dan keuntungan secara umum.
* Shifting Comfort (kenyamanan sebagian dianggap kenyamanan semua)
Dimana yang nyaman di sini hanya perokok, sementara non-perokok terganggu, terancam keselamatan, impact kerugian umum lebih besar.
Logic Conclusion :
* Masalah -> pilih solusi yang menguntungkan sebagian -> klaim sebagai keuntungan semua.
Logic Should Be :
* Masalah -> pilih solusi yang benar -> aman, efisien, inklusif, benefit luas dan tidak merugikan pihak lain secara umum ataupun khusus.
______
Disclaimer : Perlu diketahui dan perlu dibedakan, bahwa pembahasan ini tidak bermaksud mengkritik tokoh (pejabat) secara pribadi (self), melainkan contoh kritik terhadap kerangka pikir (idea).
********************
Dari sini kita tau, bahwa berpikir butuh kerangka, bahwa ada landasan dalam berlogika, yang mana kemudian itu tercermin dari perkataan, yang sangat penting memahami konteks secara objektif, untuk menghindarkan diri dari kekeliruan berpikir, ketiadaan kerangka logika atau cacat logika (logical fallacy).
Dari sini kita tau, seseorang yang berpikir butuh kerangka, seseorang yang berlogika butuh landasan, yang kemudian bisa terbangun diatasnya argumen yang tepat, hasil yang akurat, terlebih solusi untuk permasalahan banyak umat.
Dari sini kita tau, bahwa “tokoh publik” (tertentu), bukanlah jaminan memiliki kerangka berpikir yang benar, banyak di antaranya didapati kesalahan dalam berpikir, cacat logika, mereka bicara berdasarkan asumsi, bukan argumentasi yang memiliki landasan kuat.
Dari sini kita tau, bahwa dalam rangka agama, seorang “tokoh agama” bukanlah jaminan memiliki kerangka berpikir dan landasan logika yang benar, banyak di antara mereka didapati kesalahan dalam berpikir, cacat logika, bangunan pemahaman yang tidak memiliki kerangka, mereka kemudian berbicara (ceramah/khotbah) berdasarkan asumsi, pikiran pribadi, pemahamannya sendiri yang relatif dengan keuntungan individu atau kepentingan kelompok tertentu dengan membawa narasi agama, bukan argumentasi yang terbangun dari landasan Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana yang dipahami Rasul shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat, yang mana ini tentu sangat membahayakan bagi umat.
Dari sini semoga kita tau, bahwa kita bukan sedang membicarakan “tokoh” tertentu, bukan sedang membicarakan “kereta”, bukan sedang membicarakan “rokok”, namun sedang mempelajari cara dan kerangka berpikir, memahami landasan berlogika, berhati-hati dalam argumentasi, serta agar mampu mendeteksi kesalahan argumentasi dari “tokoh” tertentu yang kadang cacat ide, cacat logika, demi menghindari pemahaman logika yang keliru atau “logical fallacy”, terlebih pada perkara-perkara akhirat.
..Wallahu a’lam..