Istilah-Istilah “Mimpi” dalam Bahasa Arab
Tidak sebagaimana dalam bahasa Indonesia, mimpi di dalam bahasa Arab setidaknya diredaksikan dalam 7 (tujuh) penyebutan dan dalam definisi istilah:
* حُلْم (Hulm): Mimpi secara umum, bisa baik atau buruk.
* رُؤْيَا (Ru'ya): Mimpi baik yang datang dari Allah (mimpi yang benar).
* أَحْلَام (Ahlam): Bentuk jamak dari hulm, artinya mimpi-mimpi.
* الْحُلُم (Al-Hulm): Mimpi (kata benda).
* حَلَمَ (Halama): Bermimpi (kata kerja).
* إحْتِلاَم (Ihtilam): Mimpi ‘basah’ (mimpi yang melibatkan ejakulasi).
* كابوس (Kabus): Mimpi yang buruk
Dalam Islam, mimpi adalah salah satu cara Allah menyampaikan Wahyu (petunjuk) kepada para Nabi, sebagaimana:
1. Mimpi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, terkait menyembelih anaknya (Ismail) yang berulang hingga 3x. (Ini tentang keyakinan, bukan landasan syari’at).
2. Mimpi Nabi Yusuf ‘alaihis salam, terkait bintang, bulan, matahari, bintang, yang menjadi cikal bakal kisah kenabian. (Ini tentang kisah kenabian bukan tentang perkara syari’at).
3. Mimpi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerima wahyu sebagaimana banyak dijelaskan oleh istri-istri beliau dari Khadijah sampai riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha. (Ini tentang petunjuk-petunjuk jawaban kala kebingungan / gelisah, bukan sedang dalam rangka syari’at).
Baca juga:
Syari’at Tidak Melalui Mimpi
Urusan syari’at, metode pengiriman wahyu (petunjuk syari’at) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah ketika terjaga; ketika berhadapan langsung dengan Malaikat Jibril, menggigil kedinginan, dan atau dalam keadaan terjaga lainnya (bukan melalui mimpi).
“Bermulanya wahyu adalah mimpi yang benar, hanya saja syari'at tidak melalui wahyu kecuali dalam keadaan terjaga, serta melihat/melalui Malaikat Jibril, bukan melalui mimpi. Meski ada wahyu melalui mimpi, itu sebatas wahyu petunjuk (jawaban dari kebingungan) yang bukan berupa syari'at.” Demikian juga hal ini penjelasan Ibnu Hajar dalam tafsirnya, dan yang mana ini adalah penjelasan dengan landasan-landasan hujjah yang kuat.
___
Macam-Macam Mimpi Manusia (Biasa)
Dalam Islam, mimpi dibagi menjadi tiga jenis utama. Mimpi manusia biasa (selain Nabi) menjadi tiga jenis yaitu:
1. Haditun Nafsi (Hadits an Nafs): Bunga tidur karena pikiran, keletihan, atau keinginan yang menggebu-gebu. Bisa berupa mimpi yang indah, tersambung dengan kehidupan nyata, berupa mimpi yang aneh, absurd, mimpi yang tidak relevan (tidak nyambung), atau mimpi yang tidak mengenakkan. Mimpi yang demikian tidak perlu diartikan apapun karena sebatas ‘bunga tidur’.
2. Bushra minallah (Al Ru’ya): Kabar gembira dari Allah yang boleh ditakwilkan (diartikan). Mimpi yang demikian boleh diceritakan, boleh disebarluaskan, dan kemudian dipahami setelah ditakwil atau ditafsirkan lewat penjelasan Ahli ilmu (Ahli tafsir mimpi) dengan ilmu, bukan diartikan atau ditafsirkan sendiri secara bebas tanpa ilmu.
3. Tahwifus Syaitan (Al Hulm Al-Sayyi’): Gangguan atau ketakutan dari setan yang tidak memiliki arti dan dilarang untuk ditakwilkan. Mimpi yang menyeramkan, goib, tidak mengenakkan, atau membawa kabar buruk, maka mimpi demikian adalah gangguan dan ketakutan yang datang dari setan yang tidak perlu diceritakan, tidak perlu diartikan, tidak perlu diambil pusing.
Mimpi bertemu Rasullullah
مَنْ رَآنِي فِى الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِي. رواه البخاري (ومسلم)
"Barangsiapa yang (bermimpi) melihatku dalam tidur, berarti ia sungguh-sungguh (benar) telah melihatku. Sesungguhnya Setan tidak akan bisa menjelma menyerupai diriku." (Bukhari)
Jika seseorang (Muslim) bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam mimpinya maka itu adalah benar (beliau).
Makna hadits ini adalah, bahwa barangsiapa yang bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan (kabar) bentuk asli ketika beliau masih hidup, maka ia akan melihat bukti sesuai dari kabar dalam mimpinya dan akan melihat pada kenyataan yang terjadi ketika dalam keadaan bangun dalam kehidupan dunianya, sesuai dengan isi berita yang diisyaratkan dalam mimpinya tersebut. Kemudian ditambahkan penebalan penjelasan yaitu bukanlah yang dimaksud bahwa melihat Dzat (fisik) Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ia sudah dalam keadaan bangun, bukan melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dalam keadaan sadar (keadaan bangun).
Baca juga:
***
Rapuhnya Pemahaman Hukum Syari’at yang Datang dari Manusia Berdasarkan Mimpi
Dengan demikian, maka terpatahkan pendapat yang memahami:
1. Wahyu (masih) turun setelah era kenabian. Adanya wahyu yang diberikan kepada selain (para) nabi.
2. Syari’at datang melalui mimpi para Nabi (dalam keadaan tidur), melainkan yang tepat syari’at datang ketika (Nabi) dalam keadaan terjaga (bangun).
3. Mimpi semua manusia setelah era kenabian bukanlah wahyu (petunjuk), bukan pula merupakan dasar syari’at.
4. Syari’at yang datang dari pengakuan manusia yang bertemu Nabi shalllahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan terjaga.
Wallahu a’lam.
Istilah-Istilah “Mimpi” dalam Bahasa Arab
Tidak sebagaimana dalam bahasa Indonesia, mimpi di dalam bahasa Arab setidaknya diredaksikan dalam 7 (tujuh) penyebutan dan dalam definisi istilah:
* حُلْم (Hulm): Mimpi secara umum, bisa baik atau buruk.
* رُؤْيَا (Ru'ya): Mimpi baik yang datang dari Allah (mimpi yang benar).
* أَحْلَام (Ahlam): Bentuk jamak dari hulm, artinya mimpi-mimpi.
* الْحُلُم (Al-Hulm): Mimpi (kata benda).
* حَلَمَ (Halama): Bermimpi (kata kerja).
* إحْتِلاَم (Ihtilam): Mimpi ‘basah’ (mimpi yang melibatkan ejakulasi).
* كابوس (Kabus): Mimpi yang buruk
Dalam Islam, mimpi adalah salah satu cara Allah menyampaikan Wahyu (petunjuk) kepada para Nabi, sebagaimana:
1. Mimpi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, terkait menyembelih anaknya (Ismail) yang berulang hingga 3x. (Ini tentang keyakinan, bukan landasan syari’at).
2. Mimpi Nabi Yusuf ‘alaihis salam, terkait bintang, bulan, matahari, bintang, yang menjadi cikal bakal kisah kenabian. (Ini tentang kisah kenabian bukan tentang perkara syari’at).
3. Mimpi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerima wahyu sebagaimana banyak dijelaskan oleh istri-istri beliau dari Khadijah sampai riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha. (Ini tentang petunjuk-petunjuk jawaban kala kebingungan / gelisah, bukan sedang dalam rangka syari’at).
Baca juga:
Syari’at Tidak Melalui Mimpi
Urusan syari’at, metode pengiriman wahyu (petunjuk syari’at) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah ketika terjaga; ketika berhadapan langsung dengan Malaikat Jibril, menggigil kedinginan, dan atau dalam keadaan terjaga lainnya (bukan melalui mimpi).
“Bermulanya wahyu adalah mimpi yang benar, hanya saja syari'at tidak melalui wahyu kecuali dalam keadaan terjaga, serta melihat/melalui Malaikat Jibril, bukan melalui mimpi. Meski ada wahyu melalui mimpi, itu sebatas wahyu petunjuk (jawaban dari kebingungan) yang bukan berupa syari'at.” Demikian juga hal ini penjelasan Ibnu Hajar dalam tafsirnya, dan yang mana ini adalah penjelasan dengan landasan-landasan hujjah yang kuat.
___
Macam-Macam Mimpi Manusia (Biasa)
Dalam Islam, mimpi dibagi menjadi tiga jenis utama. Mimpi manusia biasa (selain Nabi) menjadi tiga jenis yaitu:
1. Haditun Nafsi (Hadits an Nafs): Bunga tidur karena pikiran, keletihan, atau keinginan yang menggebu-gebu. Bisa berupa mimpi yang indah, tersambung dengan kehidupan nyata, berupa mimpi yang aneh, absurd, mimpi yang tidak relevan (tidak nyambung), atau mimpi yang tidak mengenakkan. Mimpi yang demikian tidak perlu diartikan apapun karena sebatas ‘bunga tidur’.
2. Bushra minallah (Al Ru’ya): Kabar gembira dari Allah yang boleh ditakwilkan (diartikan). Mimpi yang demikian boleh diceritakan, boleh disebarluaskan, dan kemudian dipahami setelah ditakwil atau ditafsirkan lewat penjelasan Ahli ilmu (Ahli tafsir mimpi) dengan ilmu, bukan diartikan atau ditafsirkan sendiri secara bebas tanpa ilmu.
3. Tahwifus Syaitan (Al Hulm Al-Sayyi’): Gangguan atau ketakutan dari setan yang tidak memiliki arti dan dilarang untuk ditakwilkan. Mimpi yang menyeramkan, goib, tidak mengenakkan, atau membawa kabar buruk, maka mimpi demikian adalah gangguan dan ketakutan yang datang dari setan yang tidak perlu diceritakan, tidak perlu diartikan, tidak perlu diambil pusing.
Mimpi bertemu Rasullullah
مَنْ رَآنِي فِى الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِي. رواه البخاري (ومسلم)
"Barangsiapa yang (bermimpi) melihatku dalam tidur, berarti ia sungguh-sungguh (benar) telah melihatku. Sesungguhnya Setan tidak akan bisa menjelma menyerupai diriku." (Bukhari)
Jika seseorang (Muslim) bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam mimpinya maka itu adalah benar (beliau).
Makna hadits ini adalah, bahwa barangsiapa yang bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan (kabar) bentuk asli ketika beliau masih hidup, maka ia akan melihat bukti sesuai dari kabar dalam mimpinya dan akan melihat pada kenyataan yang terjadi ketika dalam keadaan bangun dalam kehidupan dunianya, sesuai dengan isi berita yang diisyaratkan dalam mimpinya tersebut. Kemudian ditambahkan penebalan penjelasan yaitu bukanlah yang dimaksud bahwa melihat Dzat (fisik) Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ia sudah dalam keadaan bangun, bukan melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dalam keadaan sadar (keadaan bangun).
Baca juga:
***
Rapuhnya Pemahaman Hukum Syari’at yang Datang dari Manusia Berdasarkan Mimpi
Dengan demikian, maka terpatahkan pendapat yang memahami:
1. Wahyu (masih) turun setelah era kenabian. Adanya wahyu yang diberikan kepada selain (para) nabi.
2. Syari’at datang melalui mimpi para Nabi (dalam keadaan tidur), melainkan yang tepat syari’at datang ketika (Nabi) dalam keadaan terjaga (bangun).
3. Mimpi semua manusia setelah era kenabian bukanlah wahyu (petunjuk), bukan pula merupakan dasar syari’at.
4. Syari’at yang datang dari pengakuan manusia yang bertemu Nabi shalllahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan terjaga.
Wallahu a’lam.
Membedah “Self-Care Bukan Egoisme”
Meluruskan Logika “Orang Baik Yang Menjadi Jahat Karena Tersakiti”
Sering kali kita mendengar premis bahwa ketika seseorang sudah lelah terhadap dunia namun tidak mendapat timbal balik, ia akan menjadi tidak acuh. Ketika seseorang terlalu banyak memberi namun tak berbalas, ia akan enggan memberi lagi. Begitu pula saat seseorang terlalu peduli pada sesama namun tidak dipedulikan, ia cenderung berbalik menjadi mementingkan diri sendiri.
Logika yang banyak dipakai manusia hari ini adalah jenis logical fallacy (kesesatan berpikir) yang serupa dengan yang disusupkan dalam film Joker, yaitu: “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”.
Dalam ilmu psikologi, ini adalah logika yang keliru—di mana sifat seseorang dianggap bergantung pada perilaku orang lain kepadanya.
Logika yang sebenarnya adalah: orang baik akan tetap baik meski orang lain berbuat jahat. Kebaikan seseorang tidak semestinya luntur hanya karena keberadaan orang yang jahat.
Dalam kerangka berpikir Islam, kerangka berpikirnya jauh lebih mulia.
Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap peduli pada dunia meski beliau disakiti, ditinggalkan, dan kehilangan banyak orang tercinta. Di tengah kekecewaan luar biasa terhadap manusia, beliau masih bisa berempati pada seekor burung kecil yang gelisah karena kehilangan anaknya.
Lihatlah pula bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu menikmati shalat hingga ingin berlama-lama di dalamnya. Namun, ketika mendengar tangisan bayi saat beliau menjadi imam, beliau mempercepat shalatnya karena peduli pada perasaan ibu dari bayi tersebut. Kecintaan beliau terhadap ibadah tidak menjadikannya buta pada lingkungan sekitar, melainkan memberi energi untuk kepedulian yang lebih luas.
Self-Care vs Egoisme
Self-care bukan berarti egois. Self-care bukan berarti mementingkan diri sendiri lalu abai pada orang lain, melainkan upaya memperkuat diri agar bisa menjadi lebih bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain secara lebih luas.
Logika yang sama dengan prosedur keselamatan dalam dunia aviasi: “pasanglah masker oksigen pada diri sendiri terlebih dahulu, baru kemudian kepada anak”. Ini bukan egois, melainkan inilah self-care. Sebab, jika Anda pingsan, Anda tidak akan bisa menolong siapa pun.
Islam pun mengajarkan urutan yang serupa: "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (Dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, baru orang lain).
Dari sini kita memahami bahwa mereka yang terlalu sibuk menilai atau ingin memperbaiki orang lain, namun lalai terhadap diri dan keluarganya, justru adalah orang-orang yang egois.
Self-care itu bukan membela diri sembari menyalahkan orang lain, bukan merasa lebih baik dari sesama, bukan pula melarikan diri dari dunia. Self-care adalah cara seseorang menguatkan diri agar mampu menata hidup dengan tenang dan hati yang tetap utuh.
Self-care bukan tentang menjauh atau memutus tali kekerabatan, melainkan cara memulihkan jiwa agar manfaat yang ditebar bisa lebih banyak; agar ketika seseorang berbuat baik, ia tidak runtuh oleh kelelahan dari dalam dirinya sendiri.
Wallahu a’lam.
Sebagian dari kita mungkin menganggap hal-hal tertentu sebagai klenik atau mistis, padahal sebenarnya itu adalah respons alami dari otak dan tubuh manusia.
1. Masuk Angin
Sering dianggap sebagai “angin yang masuk ke tubuh”, padahal yang sebenarnya terjadi adalah infeksi virus influenza yang mulai menyerang. Rasa tidak nyaman, tubuh hangat, dan pegal adalah tanda bahwa sistem imun sedang bekerja melawan virus tersebut. Istirahat yang cukup, konsumsi makanan bergizi, dan obat pereda nyeri sudah cukup membantu. Antibiotik tidak diperlukan, karena justru dapat mengganggu fungsi imun, kecuali jika demam mencapai di atas 39°C, maka dukungan obat tambahan dapat dipertimbangkan.
2. Angin Duduk
Sering dianggap angin yang berdiam pada “ulu hati”, pada organ dalam tubuh, yang menyumbat dan tidak bisa berjalan keluar atau masuk. Padahal itu adalah penyempitan pembuluh darah jantung akibat tumpukan lemak jahat, dari apa yang dia masukkan kedalam mulutnya, tersumbatnya aliran darah pada pembuluh darah jantung. Hindari makanan berlemak tinggi, gorengan, minyak, gula, dan sejenisnya. Perbanyak olahraga kardio vascular, jalan kaki, jogging ringan, hingga mendaki gunung dan lainnya. Misalkan jika sudah kronis bisa dengan operasi “bypass” (membuat saluran pembuluh darah baru), angioplasti atau melebarkan luas pembuluh darah dengan pemasangan robot balon mikro yang melebarkan pembuluh darah yang sempit, bukan minum obat penahan nyeri.
3. Ketempelan
Sebagian kita mempercayai bahwa itu sedang ditempel oleh makhlus halus, padahal didalam ilmu psikologi itu didefinisi sebagai “panic dissalocation”, respon terhadap panik pada tubuh, dada berat, badan lemas, bahkan suara hilang, itu karena sistem syarat yang sedang overload.
4. Ketindihan
Padahal itu “sleep paralyze”, otak sudah bangun namun badan belum aktif, sensasinya seperti stroke, otak sadar tapi tidak bisa menggerakan beberapa anggota badan.
5. Melihat Bayangan Putih/Hitam
Dianggap sedang melihat kuntilanak, jin dan sebangsanya, padahal itu disebut “hipervigilance”, otak yang terlalu waspada karena stress tertentu, sehingga memproyeksikan ancaman yang tidak ada.
6. Bisikan/Suara Ghaib
Tubuh seperti mendengar suara bisikan, suara nafas, suara pintu terbuka/tertutup, langkah kaki, suara binatang atau suara familiar lain namun tidak bisa terjelaskan. Padahal itu “intrusive thought”, respon otak tiba-tiba ketika cemas berat, ketakutan, kelelahan, kurang tidur, atau trauma (dibangun ketakutan), sehingga otak seakan merelasisasikan suara-suara dengan pengamalan atau pengetahuan yang sebelumnya.
7. Kerasukan (massal)
Banyak yang menganggap ini gangguan makhluk halus, padahal ini “mass hysteria”, emosi yang menular, satu orang yang panik dan melakukan sesuatu dengan tidak sadar, maka kemudian kepanikan itu bisa menular, dan orang lain bisa meniru melakukan sesuatu tanpa sadar.
8. Benda Bergerak Sendiri
Jelas ini pasti kelakukan makhluk halus! padahal itu disebut “poltergeist seletive attention”, perhatian berlebih, ditambah angin, ditambah histori narasi, kemudian otak menyambungkannya menjadi kejadian “gaib”.
9. Tempat Keramat
Orang takut karena mendengar cerita mistis, padahal ada sistem diotak kita yaitu “confirmation bias” dimana kalau seseorang mempercayai ketakutan akan sesuatu hal, maka dia akan mencari-cari bukti untuk menguatkan atau membenarkan ketakutannya.
_____
Orang-orang yang tidak tau (bodoh), belum berpengetahuan, akan mencari-cari definisi berdasarkan logikanya sendiri, atau logika orang lain, padahal definisi berdasarkan logika semata kebanyakan adalah salah, karena kerangka logika manusia pada dasarnya adalah cacat, kecuali seseorang tersebut memiliki kemampuan merangkai kerangka pikir, kecuali dia tau mekanisme cara berpikir.
80% hal mistis itu bukan ghaib, kamu saja yang tidak memiliki pengetahuannya. 80% hal mistis itu bisa dijelaskan secara _scientis_ atau klinis, sedangkan 20% memang benar adalah hal ghaib, yang mana perihal alam ghaib memang tidak bisa dibuktikan secara fisik selama masih di alam nyata (semisal malaikat, iblis, alam kubur, akhirat dan lainnya).
*************************
Saya coba tambahkan 1 lagi :
10. “Salafi, Ahlussunnah (Aswaja)”
Sebagian dari kita kaum muslimin, merasa seorang adalah seorang salaf, padahal khalaf. Mereka mengistilahi diri mereka “Salafi”, padahal jika mereka bercermin, mereka sangat jauh dari definisi itu yaitu : Para Sahabat, padahal mereka lebih dekat dan mirip Sururi, Hizbi, Haroki atau Ikhwani.
Sebagian merasa mereka adalah bagian dari “Ahlussunnah wal Jamaah” (Aswaja), atau orang-orang yang sudah benar melakukan tuntunan (sunnah) dalam agama, padahal yang mereka ikuti adalah “ahlulhawa” (pengikut hawa nafsu), padahal yang mereka ikuti “ahlulbid’ah” (pengikut pemahaman baru dalam beragama).
_____
Orang-orang yang tidak tau (bodoh), tidak berpengetahuan, atau belum berpengetahuan dengan benar, akan membuat definisi sendiri, akan mengaku-ngaku sendiri, akan mengklaim, berdasarkan isi kepala yang padahal masih ala kadarnya, atau dia mengikuti apa yang diikuti banyak orang, dia menganggap kebenaran adalah apa yang dilakukan banyak orang, padahal yang diikutinya itu adalah orang bodoh, yang kemudian dia membodohi banyak orang lain selain dirinya, padahal apa yang dipahami dan dilakukan kebanyakan orang biasanya adalah kesalahan, kekeliruan atau kesesatan.
-> Orang-orang seperti ini, kelak dihari kiamat akan berdiri di barisan pengikut Nabi namun kemudian diusir, karena yang diikutinya selama didunia bukanlah Nabi.
-> Orang-orang seperti ini kelak dihari kiamat akan berdiri dibarisan Ustadz/Kyai/Gus atau junjungannya, mereka akan berdiri dibarisan ketua organisasinya, akan berdiri pimpinan kelompoknya-kelompoknya.
-> Orang-orang seperti ini kelak di Hauts akan duduk-duduk dipinggir telaga bersama orang-orang shalih pengikut Nabi shallallahu alaihi wasalalm, namun kemudian diusir oleh para malaikat, namun terusir dari telaga, karena selama di dunia yang diikutinya bukanlah Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena idola mereka bukanlah Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Dan diantara kelak yang terusir itu,
bisa jadi adalah kamu. 🫵
..Wallahu a’lam..
Kenapa pernyataan “Kalau tidak kaya, jangan bicara tentang kecerdasan finansial” adalah pernyataan yang keliru?
Atau pernyataan serupa seperti:
*************************
1. Ad Hominem
Menyerang pribadi seseorang, bukan argumennya, adalah bentuk cacat logika ad hominem. Karena status kaya atau miskin tidak otomatis menentukan benar atau salah.
2. Data lebih penting dari “isi rekening”
Data berada di atas gelar, jabatan, status sosial, atau kekayaan seseorang.
Kebenaran datang dari data, fakta, logika, rasionalitas, dan kecerdasan berpikir — bukan dari isi rekening atau selembar ijazah.
3. Kebenaran milik semua orang
Argumen berbasis data dan fakta yang valid boleh dinarasikan oleh siapa pun.
Kebenaran bukan milik orang kaya, bukan milik pengacara, bukan milik dokter, bukan milik ustadz, bukan milik orang yang bergelar, dan bukan hak eksklusif orang dengan jabatan tertentu.
4. Ahli tidak harus “kaya”
Banyak dosen ekonomi hidup sederhana, namun lebih ahli dibanding influencer motivasi kripto. Banyak dokter jarang ke gym, sementara orang awam lebih disiplin menjaga kesehatan. Banyak pengacara dan ahli hukum justru melanggar hukum.
-> Banyak Nabi dan ulama tidak memiliki gelar akademik tinggi, dibanding mahasiswa lulusan S3 dari luar negeri.
-> Banyak Nabi hanya memiliki sedikit pengikut, dibanding ustadz YouTube dengan ratusan ribu atau jutaan followers.
-> Banyak Nabi dan Rasul tidak kaya, tidak bergelar, dan tidak dihormati masyarakat, dibanding tokoh sesat yang justru diagungkan.
5. Bahaya menutup narasi
Jika hanya orang kaya, bergelar, atau berstatus tinggi yang dianggap berhak menyampaikan kebenaran, maka akar masalah akan tumbuh. Kebenaran akan hilang, kritik akan dibungkam, dan solusi akan runtuh satu per satu.
*********************
Berhentilah berpikir bahwa “kiblat” kebenaran terletak pada status finansial, status akademis, atau status sosial seseorang. Kebenaran terletak pada argumentasi berbasis data dan fakta.
Jika kamu masih “bersujud” menghadap seseorang berdasarkan status finansial sesorang, status akademis seseorang, status masyarakat seseorang, ini adalah kabar baik, selamat! Kamu menderita cacat logika, cacat pikir, segeralah memperbaikinya, atau kecacatanmu akan merugikanmu, bahkan bisa saja merugikan kepada banyak orang lain.
..Wallahu a’lam..
Kenapa produk Apple jarang memberikan diskon?
Bagi sebagian kalangan, Apple terkenal dengan harganya yang “mahal”, Apple juga terkenal jarang memberi diskon besar-besaran.
Ketika brand lain berlomba-lomba membanting harga, Apple justru mempertahankan harganya. Kenapa begitu?
1. Apple membangun nilai, bukan harga
Apple menawarkan nilai dan pengalaman, bukan sekadar fitur atau produk. User experience dan user interface yang dirancang sangat eksklusif, dibalut dengan harga premium yang membuatnya terasa pantas dimiliki—meski tidak semua orang mampu membelinya.
2. Menghindari “perang” dengan kompetitor
Memberikan diskon atau menjual dengan harga murah dapat memicu perang harga dan persaingan dengan banyak kompetitor di kelas di bawahnya. Apple menghindari strategi itu dengan berfokus pada inovasi dan penguatan ekosistem internal—bukan sekadar menjadi murah agar semua orang bisa membeli atau supaya produknya cepat laku.
3. Memberi rasa aman
Pemilik Apple merasa percaya diri karena produk mereka jarang didiskon. Hal ini membangun kepercayaan, menjaga nilai, serta memberikan rasa dihargai dan keamanan bagi pemiliknya.
4. Segmen khusus
Jarangnya diskon membuat produk Apple menjadi sangat tersegmentasi. Sebab, ketika sebuah produk terlalu mudah dibeli karena diskon, ia kehilangan eksklusivitas dan tidak lagi terasa istimewa.
5. Kontrol supply chain
Harga yang tinggi memberi Apple kemampuan untuk menguasai penuh desain, material, marketing hingga distribusi, tanpa intervensi atau manuver dari pihak lain.
_____
Mindset yang sama dimiliki dan dipergunakan Luxurious Brand lain, misalnya Ferarri, Lamborghini, Mercy, BMW, Tesla, Xpeng, Patek Phillipe, Richard Mille, Rolex, dan beberapa lainnya.
❎ Ternyata Apple tidak menjual HP
✅ Tetapi user experience dan ekosistem
❎ Ternyata Rolex tidak menjual jam
✅ Tetapi status
❎ Ternyata Ferarri tidak menjual mobil
✅ Tetapi achievement
❎ Ternyata Nike tidak menjual sepatu
✅ Tetapi motivasi
❎ Ternyata McD tidak menjual burger
✅ Tetapi family happiness
*************************
Tetapi ini bukan tentang Apple,
Tetapi ini bukan tentang barang,
Tetapi ini bukan tentang dagang,
Tetapi tentang bagaimana kita beragama.
Dari sini kita akan mengerti bahwa “Manhaj Salaf” tidak menjual agama apalagi dengan harga yang murah, dari sini kita akan mengerti, bahwa “Manhaj Salaf” tidak kenal dengan istilah “banyak diskon”.
Dari sini kita akan mengerti bahwa “Manhaj Salaf” sangat ekslusif, hanya 1 dari total 73 golongan/kelompok yang memilikinya, hanya 1 dari 1000 orang yang bisa mendapatinya, dimana tidak semua orang bisa memilikinya.
Dari sini kita akan tau bahwa “Islam” bukan sekadar status pada kartu identitas, “Muslim” bukan sekedar kata yang mengisi kolom Curiculum Vitae. Melainkan “Manhaj Salaf” atau “Salafi” adalah cara beragama sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, yang terbaik, yang pemahaman beragama meraka dijamin benar dan digaransi Surga oleh Allah Azza wa Jalla, serta mereka para kaum muslimin yang benar-benar mengikuti mereka dalam rangka pemahaman dan cara beragama.
_____
Dari sini kita tau, jika agama dijual atau bisa dibeli dengan harga yang murah maka itu bukanlah “Manhaj Salaf”.
Dari sini kita tau, jika dalam rangka beragama ini kita dapati dengan meminta atau diberi banyak diskon, maka itu bukanlah “Manhaj Salaf”, bukanlah “Salafi”.
Dari sini kita tau, jika dalam rangka beragama ini kita mudah mendapatinya, banyak orang yang memilikinya, ramai yang mengakuinya. Maka jangan-jangan kita masuk kepada kelompok yang banyak (yang 72, yang 999) bukan yang 1, jangan-jangan yang ada pada diri kita bukan pemahaman beragama yang dimiliki dan dipahami oleh Nabi shallallahu wasallam dan para sahabatnya, bukan “Manhaj Salaf”, bukan “Salafi”.
*************************
Mindset yang sama ada pada filosofis ATOMM’S (menitijalanlurus) dimana tidak semua orang bisa ada didalamnya, tidak menjual agama ini apalagi terlebih dengan harga yang murah, tidak mendiskon agama ini, memberi rasa aman dari orang-orang yang mengaku beragama Islam, mengklaim ber-“Manhaj Salaf” atau “Salafi” namun berpemahaman secara sembarangan, memberi “user experience” bermanhaj Salaf yang sebenarnya, menjadi seorang Salafi yang benar, menjadi Muslim yang sebenarnya. Tanpa intervensi atau manuver dari kelompok atau kepentingan duniawi apapun. Manfaatkan kesempatan “free trial” ini dengan baik.
_____
Tetapi sebagaimana Apple, terkhusus pengguna Iphone, jangan jumawa dan puas diri dengan “Iphone 3”, karena saat materi ini dibuat, kini Iphone sudah versi 17 Pro Max.
Tetapi sebagaimana seorang Muslim, terkhusus yang mengaku bermanhaj salaf, mengaku seorang “Salafi”, jangan jumawa dan puas dengan jenggot dan celana cingkrang, karena seorang Muslim sebenarnya adalah mereka yang benar-benar mengikuti keseluruhan cara dan pemahaman beragama sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat.
Dimana ketauhilah, seseorang yang memiliki pemahaman beragama sebagaimana mereka, amat sangat jauh lebih nikmat dibandingkan seseorang yang memiliki handphone Apple Iphone 17 Pro Max.
..Wallahu a’lam..