Masyarakat Indonesia, diketahui rata-rata memiliki IQ78.49, dimana ini termasuk yang rendah, bahkan di level Asia Tenggara saja.
Penyebab utama rendahnya IQ masyarakat kita diantaranya adalah:
1. Kualitas gizi (dari kecil)
2. Sistem pendidikan (non-critical thinking)
3. Ketimpangan pendidikan
4. Budaya literasi rendah
5. Faktor Lingkungan (survival mode)
Malas, jarang membaca, hanya tau beres, maunya instan, jarang berkompetisi, pasif screening (scrolling hp), adalah merupakan contoh diantaranya.
*****
Berikut setidaknya 50 kegiatan analog (tanpa HP/gadget) yang bisa membantu melatih otak, meningkatkan kemampuan berpikir, fokus, kreativitas, memori, logika, kecerdasan IQ, termasuk meningkatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial.
Logika & Problem Solving
1. Bermain catur
2. Bermain sudoku
3. Bermain rubik
4. Puzzle 1000+ pieces
5. Bermain bridge
6. Bermain mahjong
7. Bermain monopoli strategis
8. Bermain scrabble
9. Bermain teka-teki logika
10. Berlatih hitung tanpa kalkulator
Membaca & Menulis
1. Membaca keras (buku/tulisan berat)
2. Membaca jurnal berat
3. Membaca ensiklopedia
4. Membaca biografi tokoh hebat
5. Membaca buku sains populer
6. Menulis jurnal harian
7. Menulis essay argumentatif
8. Menulis artikel berat
9. Menulis / Menyalin tulisan tangan klasik
10. Membuat mind map dari buku yang dibaca
Bahasa & Memori
1. Menghafal kosakata bahasa asing
2. Mempelajari bahasa asing
3. Menghafal surat atau teks panjang
4. Bermain tebak kata
5. Latihan public speaking tanpa teks
6. Debat argumentatif
7. Storytelling spontan
8. Belajar aksara baru (Arab/Jepang/Korea dll)
9. Berlatih bicara dengan intonasi
10. Mengingat detail ruangan lalu menuliskannya kembali
Kreativitas
1. Menggambar observasi objek nyata
2. Melukis / Menggambar
3. Mempelajari pola
4. Menulis puisi
5. Origami
6. Merakit miniatur
7. Membuat kerajinan tangan
8. Mendesain ruangan di kertas
9. Fotografi analog/kamera manual
10. Membuat komik manual
Fokus & Ketahanan Mental
1. Meditasi / Latihan Pernafasan
2. Jalan kaki tanpa distraksi
3. Berkebun
4. Memancing
5. Kaligrafi
6. Menjahit atau merajut
7. Memasak resep kompleks
8. Mengamati orang di tempat umum lalu menganalisis perilaku
9. Bermain olahraga strategi (badminton, tenis meja, basket)
10. Diskusi mendalam 1–2 jam
*****
Berikut adalah aktivitas yang sangat kuat untuk meningkatkan kemampuan otak secara umum. Jika ingin hasil paling terasa terhadap kecerdasan berpikir, kombinasi terbaik biasanya ada pada:
* Membaca berat + menulis
* Catur / Olahraga Strategi
* Belajar bahasa (aksara) baru
* Mempelajari dan mempraktekkan seni
* Meditasi, Berpikir, Solutional Thinking
* Diskusi intelektual
Formula sederhana “upgrade otak”
Idealnya dalam 1 pekan mengakomodir:
* 2 aktivitas logika
* 2 aktivitas kreativitas
* 2 aktivitas fisik
* 1 aktivitas refleksi/membaca mendalam
Karena IQ bukan cuma soal “pintar matematika” (pintar angka), melainkan kecepatan berpikir, kekuatan memory, fokus durabiliti, pemahaman pola, kecerdasan verbal/audio, pengelolaan emosi yang menghasilkan ketepatan berpikir, tepat mengambil pilihan (keputusan).
*****
Seluruh aktivitas diatas, tidak berpengaruh (langsung) pada spiritual quotient atau SQ, karena kecerdasan spiritual atau pemahaman beragama yang benar dan lurus dari seseorang adalah sepenuhnya prerogatif Allah, alias: hidayah milik Allah, dimana hukum asal hidayah Allah adalah : *Tidak Stabil* alias berada diantara dua jari jemari Allah yang mana sangat amat bisa membuat seseorang yang jahil menjadi alim, sebaliknya orang sholeh menjadi futur.
Adapun yang bisa kita lakukan adalah senantiasa berdoa dan senantiasa berikhtiar, agar Allah memberikan pemahaman beragama dan menetapkannya pada diri kita.
* Dengan doa yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinik.” Atau artinya "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu” (Hadits Riwayat Tirmidzi).
* Kemudian dengan doa dari Al Qur’an: “Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hab lanaa mil ladunka rahmah, innaka antal wahhaab.” Atau artinya "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (Al Imran: 8).
Dan beberapa ikhtiar, diantaranya:
1. Selalu muhasabah diri
2. Selalu menjaga tindakan anggota badan
3. Sabar, ikhlas, qona’ah, zuhud, bersyukur
4. Kurangi lapar dunia (Orientasi Dunia)
5. Tadabur alam / rihlah
6. Mempelajari kitab-kitab
7. Murajaah Ilmu yang telah dipelajari
8. Melayani orang lain (Menjadi Budak Allah)
9. Berada di lingkungan yang baik
10. Senantiasa beribadah (melakukan perintah dan menjauhi larangan).
Semoga dengan ini Allah beri dan tetapkan hidayah pada kita, pemahaman beragama yang benar, Allah beri kita kecerdasan spiritual “Spiritual Quotient” yang tinggi, pada diri kita.
Wallahu a’lam.
Dari buku "Leaders Eat Last" karya Simon Sinek. Yaitu tentang bagaimana kepemimpinan yang baik, tidak pernah tentang pangkat atau jabatan, melainkan tentang mendatangkan rasa “aman” dan “nyaman” bagi orang lain dalam suatu komunitas atau kelompok.
*****
Berikut mari kita coba bedah dan analisis rinci berdasarkan urutan pembahasannya:
1.Fondasi Kepemimpinan: Rasa Aman (Circle of Safety)
Dibuka dengan argumen bahwa banyak orang meninggalkan pekerjaan bukan karena gaji, melainkan karena lingkungan yang tidak aman secara emosional.
* Konsep Circle of Safety: Pemimpin bertugas menciptakan "lingkaran keamanan" di mana anggota tim merasa dilindungi dari ancaman internal (politik kantor, saling menyalahkan, kubu-kubu, senioritas, drama dan sebagainya) sehingga mereka memiliki energi untuk menghadapi ancaman eksternal (persaingan pasar, ekonomi).
* Mode Survival vs. Kreatif: Karena, ketika seseorang merasa terancam (tidak nyaman), otak manusia akan mengaktifkan mode bertahan hidup yang memicu kecemasan dan cenderung akan melarikan diri dari masalah. Sebaliknya, lingkungan yang aman membuat otak masuk ke mode kreatif, berani mengambil risiko, termasuk berani mencoba, bahkan berani untuk gagal.
_____
2.Biologi Kepemimpinan (4 Zat Kimia Utama)
Tindakan manusia dipengaruhi oleh empat hormon utama yang menentukan cara kita bekerja dan berkolaborasi, yang dijelaskan dibawah ini:
Zat Kimia Individualis (Egois):
* Endorfin: Memberikan ketahanan terhadap rasa lelah atau sakit fisik saat bekerja keras.
* Dopamin: Rasa puas setelah mencapai target atau menyelesaikan tugas (seperti mencentang daftar tugas atau mendapat apresiasi), tetapi perlu diingat bahayanya, dopamin bersifat adiktif dan bisa membuat orang mengejar hasil instan tanpa peduli proses.
Zat Kimia Sosial (Kebersamaan):
* Serotonin: Muncul saat kita merasa dihargai atau mendapat pengakuan dari orang lain. Ini membangun rasa bangga dan status sosial.
* Oksitosin: Muncul melalui rasa percaya, persahabatan, dan sentuhan fisik (seperti jabat tangan atau pelukan hangat, termasuk rasa perhatian yang tulus). Ini adalah fondasi dari loyalitas jangka panjang.
Pemimpin hebat harus mampu menyeimbangkan antara mengejar target (Dopamin) dengan membangun hubungan dan rasa percaya (Oksitosin) agar tim tidak mengalami burnout.
_____
3.Filosofi "Leaders Eat Last" (Pemimpin Makan Terakhir)
Istilah ini pada awalnya diambil dari tradisi Marinir Amerika Serikat di mana perwira berpangkat tinggi (pimpinan) selalu makan paling terakhir setelah seluruh anak buahnya kenyang. Ini kemudian dielaborasi lebih jauh, yaitu:
* Makna Filosofis: Kepemimpinan adalah tentang tanggung jawab untuk melindungi, bukan hak istimewa untuk dilayani.
* Pengorbanan: Pemimpin sejati siap mengorbankan kenyamanannya (bahkan kepentingannya) demi kesejahteraan timnya.
* Otoritas vs. Empati: Rasa hormat tidak datang dari jabatan (otoritas), melainkan dari empati dan tindakan nyata dalam mengayomi.
* Proporsional: Hasil yang diinikmati atas apa yang telah diupayakan bersama bukanlah berbasis pada kemauan dan kenyamanan sang pimpinan, aturan boss, berdasarkan pangkat atau jabatan, melainkan pada proporsi peran kerja dan kontribusi, baik upaya dalam ide, pikiran, upaya eksekusi, upaya tenaga, skill atau kemampuan, waktu, pikiran dan yang semisalnya, yang kemudian harus dikoefisiankan, untuk mendapati proporsi yang proporsional.
NOTE: Berikut disertakan penjelasan dan rincian istilah lebih detail terkait “proporsional” sesuai konteks, diantaranya yaitu:
“Meritocracy” (Meritokrasi)
Ini adalah istilah yang paling umum digunakan dalam dunia kerja. Artinya, sistem yang memberikan penghargaan atau kekuasaan kepada seseorang berdasarkan kemampuan dan prestasi mereka (merit), bukan berdasarkan senioritas atau koneksi.
“We run this company as a meritocracy.” (Kita menjalankan perusahaan ini dengan sistem meritokrasi).
“Equity Theory” (Teori Keadilan/Ekuitas)
Dalam psikologi industri, ini merujuk pada prinsip bahwa imbalan yang diterima seseorang harus proporsional dengan input (usaha, waktu, peran) yang mereka berikan. Jika perannya besar, hasilnya besar; jika kecil, hasilnya kecil.
“The distribution of bonuses is based on equity.”
“Proportional Compensation”
Istilah yang lebih teknis untuk menyatakan bahwa kompensasi atau gaji diberikan secara proporsional sesuai dengan beban kerja atau tanggung jawab.
“They receive proportional compensation based on their performance.”
“Pay-for-Performance (P4P)”
Istilah praktis di dunia HR (Human Resources) di mana pendapatan seseorang sangat bergantung pada hasil kerja atau peran yang mereka capai.
“Our firm uses a pay-for-performance model.”
“To Each According to His Contribution”
Ini adalah frasa atau prinsip ekonomi klasik yang berarti "kepada setiap orang sesuai dengan kontribusinya."
Perbedaan dengan "Equality", dimana didalam bahasa Inggris, ada perbedaan besar antara Equality dan Equity:
* Equality (Kesetaraan): Semua orang dapat jatah yang sama rata, tidak peduli seberapa besar usahanya.
* Equity (Keadilan Proporsional): Orang dapat sesuai dengan porsi usaha dan kebutuhannya.
_____
4.Krisis Kepemimpinan Modern
Pembahasan juga kemudian mengkritik adanya pergeseran nilai kepemimpinan dalam komunitas sosial atau dalam skala dunia kerja saat ini, diantaranya:
* Angka di Atas Manusia: Banyak perusahaan lebih memprioritaskan profit dan laporan kuartal daripada kesejahteraan karyawan. Manusia hanya dianggap seperti "roda kecil" dalam mesin besar.
* Budaya Takut Gagal: Sistem yang menghukum kesalahan akan mematikan inovasi karena semua orang takut mencoba atau mengambil risiko.
* Ramai Namun Sepi: Di era digital, orang merasa terhubung secara teknologi tetapi merasa sendiri (kesepian) dan kehilangan koneksi nyata di tempat kerja.
_____
5.Langkah Menjadi Pemimpin (Kesimpulan)
Ketahuilah bahwa siapa pun bisa menjadi pemimpin tanpa harus menunggu jabatan.
* Kepemimpinan adalah Pilihan: Kepemimpinan dimulai saat seseorang memutuskan untuk peduli pada orang di sekitarnya.
* Menciptakan Budaya: Rasa aman itu menular. Jika Anda membuat satu orang merasa aman, itu akan menyebar dan membentuk budaya interaksi sosial yang sehat.
* Tujuan Akhir: ketahuilah bahwa, pemimpin hebat tidak sibuk menciptakan pengikut (followers), melainkan pemimpin yang hebat menciptakan lebih banyak orang hebat dan pemimpin baru (create more leaders).
*****
Tambahan terkait “Tern Teknis” yang perlu dipahami:
1. Circle of Safety: Lingkungan kerja yang bebas dari rasa takut dan intrik internal.
2. Toxic Workplace: Lingkungan kerja yang beracun karena manipulasi, tekanan berlebih, atau kurangnya empati.
3. Burnout: Kondisi kelelahan mental dan fisik yang luar biasa akibat stres kerja yang kronis.
4. Leader by Title vs. Leader by Trust: Perbedaan antara orang yang memimpin karena posisi formal dibandingkan orang yang diikuti karena dipercaya oleh timnya.
Ketahuilah kunci kepemimpinan dan keberhasilan memimpin suatu komunitas (organisasi kerja) jangka panjang bukanlah pada perkara kecanggihan sistem yang dipakai, melainkan kualitas kepemimpinan, memahami metode dan kemampuan untuk diapliakasikan, kemudian rasa saling percaya antar orang-orang di dalamnya.
*****
Tidak lupa, ditambahkan dari sisi syari’at, dari sebuah hadits yang relevan dengan topik kepemimpinan yang sedang kita bahas.
Hadits yang menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal “jabatan di kantor”, tapi melekat pada setiap individu sesuai perannya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)
Beliau, kemudian merincikan peran-peran tersebut:
1. Imam (Penguasa/Pemimpin Negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.
2. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya.
3. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rumah tangga tersebut.
4. Seorang pelayan (pekerja) adalah pemimpin atas harta majikannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas harta tersebut.
_____
Keterkaitan dengan analisis “Leaders Eat Last”:
* Pertanggungjawaban (Accountability): Selaras dengan prinsip Simon Sinek bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab. Di dalam hadits ini, ditekankan bahwa setiap pemimpin akan "dimintai pertanggungjawaban" (mas'ul).
* Kepemimpinan Universal: Hadits ini membuktikan bahwa tidak ada orang yang "tidak memimpin". Minimal, seseorang memimpin dirinya sendiri atau tanggung jawab kecil yang diberikan kepadanya.
* Amanah: Kepemimpinan dalam Islam dipandang sebagai amanah, bukan kemuliaan semata atau sesuatu yang dibanggakan. Jika amanah itu dijalankan dengan "memeras" atau menzalimi, maka pertanggungjawabannya akan sangat berat di akhirat.
Hadits ini sangat cocok untuk melengkapi pemahaman bahwa "Leaders Eat Last" atau perkara kepemimpinan, bahkan sebenarnya sudah diajarkan yang juga sangat ditekankan dalam ajaran agama kita.
Wallahu a’lam.
Dari sebuah buku "The Let Them Theory" yang sebenarnya merupakan suatu konsep yang dipopulerkan oleh Mel Robbins melalui episode podcast dan konten videonya yang viral, yang kemudian menjadi landasan pemikiran bagi banyak pengikutnya.
Berikut akan coba dibahas detail-detail mengenai konsep tersebut yang dibagi menjadi tiga bagian utama:
*****
Pesan inti dari "The Let Them Theory" adalah tentang melepaskan kendali atas hal-hal yang berada di luar kontrol kita, terutama perilaku, pilihan, dan emosi orang lain.
Mel Robbins mengemukakan bahwa kita sering menghabiskan energi mental yang luar biasa besar untuk mencoba mengubah cara orang lain bertindak, berpikir, atau merespons kita. Dengan menerapkan filosofi "Let Them" (atau -> Biarkan Mereka), Anda secara sadar memilih untuk berhenti memaksakan kehendak dan membiarkan realitas berjalan apa adanya. Ini bukan tentang bersikap pasif, melainkan tentang menjaga kedamaian internal dan mendapatkan kejelasan tentang siapa orang-orang di sekitar Anda.
_____
Argumen dan Logika Kunci dari "The Let Them Theory" dibedah Mel Robbins ke dalam beberapa argumen mendasar yang coba kita rincikan, yaitu:
A. Berhenti Melawan Arus Realitas
Seringkali, stres yang kita rasakan bukan berasal dari tindakan orang lain, melainkan dari perlawanan kita terhadap kenyataan bahwa mereka melakukan hal tersebut.
* Contoh: Jika seseorang tidak merespon anda atau pesan anda, "Let Them." Biarkan mereka tidak meresponnya. Dengan menerima hal ini, Anda berhenti membuang energi untuk bertanya "mengapa" dan bisa mulai fokus pada menjaga perasaan Anda sendiri.
B. Mendapatkan Data yang “Jujur”
Ketika Anda berhenti mengatur atau mengingatkan orang lain untuk melakukan sesuatu, Anda akhirnya bisa melihat siapa mereka sebenarnya.
* Jika Anda selalu mengingatkan pasangan untuk membantu di rumah, Anda tidak tahu apakah mereka benar-benar peduli atau hanya merespons omelan Anda.
* Jika Anda membiarkan mereka (Let Them) lupa atau tidak melakukannya, Anda mendapatkan "data" asli tentang sifat, sikap dan prioritas mereka. Ini membantu Anda membuat langkah, solusi dan keputusan yang lebih cerdas tentang hubungan tersebut.
C. Melepaskan Kecemasan Sosial
Banyak orang kecewa karena mereka mencoba mengontrol persepsi orang lain terhadap diri mereka. Mel disini menekankan bahwa kita tidak bisa mengontrol apa yang orang pikirkan tentang diri kita.
* Jika orang ingin salah paham terhadap Anda, “Let Them” biarkan mereka. Berusaha membuktikan diri terus-menerus hanya akan menguras energi Anda tanpa menjamin perubahan persepsi mereka.
D. Fokus pada Otonomi Diri
Teori ini menggeser fokus dari "Apa yang mereka lakukan?" menjadi "Apa yang akan saya lakukan?". Dengan membiarkan orang lain menjadi diri mereka sendiri, Anda membebaskan waktu dan ruang mental untuk fokus pada tujuan, nilai-nilai, dan kedamaian Anda sendiri.
_____
Di akhir penjelasannya, Mel Robbins memberikan saran dan langkah konkret untuk menerapkan teori ini dalam kehidupan sehari-hari:
* Identifikasi Titik Kendali: Tanyakan pada diri sendiri, "Apakah saya sedang mencoba mengontrol sesuatu yang tidak bisa dikontrol?" Jika jawabannya ya, ucapkan “mantra”: -> "Let Them."
* Amati, Jangan Bereaksi: Gunakan teori ini sebagai alat observasi. Alih-alih langsung marah atau protes saat seseorang mengecewakan Anda, amati perilaku tersebut sebagai informasi penting mengenai karakter mereka.
* Ambil Tindakan Berdasarkan Realitas: Setelah membiarkan mereka bertindak sesuai keinginan mereka, barulah kita bisa menentukan langkah selanjutnya. Jika perilakunya tidak sesuai dengan standar Anda, Anda punya hak untuk menjauh atau menetapkan batasan (boundaries).
* Prioritaskan Ketenangan Diri: Tujuan akhirnya adalah “emotional freedom”. Langkah selanjutnya adalah berhenti menjadi "sutradara" bagi hidup orang lain dan mulai menjadi "penulis" bagi hidup Anda sendiri.
*****
Perlu ditegaskan juga bahwa "Let Them" bukanlah alat untuk pengabaian atau pembiaran terhadap bahaya dan tanggung jawab, terutama dalam hubungan yang memiliki unsur kepemimpinan atau pengasuhan (seperti orang tua ke anak, suami ke istri, atau guru ke murid).
Dalam konteks hubungan dekat, "Let Them" bukan berarti “Let Them” membiarkan mereka "rusak", melainkan mengubah cara kita mengintervensi agar lebih efektif dan tidak merusak hubungan.
_____
Berikut beberapa langkah mitigasi dan solusi setelah menerapkan "Let Them":
1. Bedakan Antara "Preferensi" vs "Prinsip/Keamanan"
Langkah pertama adalah melakukan filtrasi mental sebelum bereaksi:
* Let Them (Preferensi): Jika istri ingin memilih jenis masakan yang berbeda, anak ingin memakai baju yang berbeda warna, atau murid punya cara belajar yang unik. Di sini, biarkan mereka agar mereka merasa memiliki otonomi.
* Intervensi (Prinsip/Keamanan): Jika anak melakukan dosa, istri terjebak dalam kesyirikan, atau murid melanggar hukum atau etika berat. Di sini, Anda masuk bukan sebagai "pengendali", tetapi masuk sebagai "pelindung".
2. Gunakan "Let Them" sebagai Alat Diagnosa (Bukan Solusi Akhir)
Gunakan teori ini untuk melihat sejauh mana mereka mengerti tanggung jawabnya tanpa diingatkan.
* Langkah Solusi: Jika setelah dibiarkan ternyata anak gagal mengerjakan tugasnya, jangan langsung memarahi. Gunakan kegagalan itu sebagai momen pembelajaran (teachable moment).
* Dialog: "Bapak membiarkanmu mengatur waktu kemarin karena Bapak percaya kamu bisa. Sekarang setelah hasilnya tidak baik, apa yang menurutmu perlu kita ubah?"
* Mitigasi: Anda tidak mencegah kegagalannya (karena kegagalan adalah guru terbaik), tetapi Anda membantu mereka menganalisis kegagalan tersebut.
Baca juga:
3. Transisi dari "Control" ke "Influence"
Sebagai suami, ayah, atau guru, Anda tidak bisa memaksa orang berubah, tetapi kita bisa memengaruhi mereka.
* Mitigasi: Alih-alih kita memberikan instruksi ("Kamu harus begini"), berikan pertanyaan reflektif.
* Contoh: "Aku melihat kamu sedang mengambil keputusan X (Let Them). Aku khawatir ini akan berdampak pada Y. Bagaimana pendapatmu?"
* Hasil: Kita memberikan pandangan tanpa merampas kedaulatan mereka untuk berpikir.
4. Tetapkan Batasan (Boundaries), Bukan Aturan (Rules)
Ada perbedaan halus antara aturan yang mengekang dan batasan yang melindungi.
* Penerapan: "Aku membiarkanmu memilih teman-temanmu (Let Them). Namun, batasanku adalah tidak ada penggunaan obat-obatan atau perilaku ilegal di rumah ini. Jika itu terjadi, maka akan ada konsekuensi A dan/atau B."
* Logika: Kita membiarkan mereka menjadi diri sendiri, tetapi Kita juga memiliki hak untuk menentukan apa yang bisa Kita terima di lingkungan.
5. Intervensi Berbasis Kasih Sayang, Bukan Ego
Seringkali Kita ingin mengoreksi istri atau murid karena kita merasa "malu" atau "terganggu" jika mereka salah. Itu adalah dorongan ego.
* Langkah Solusi: Jika Anda harus mengoreksi, pastikan alasannya adalah demi kebaikan mereka, bukan demi kenyamanan diri sendiri.
* Teknik: Gunakan kalimat "I notice" (Saya memperhatikan). "Aku memperhatikan belakangan ini kamu tampak tertekan dengan pilihan itu. Apakah ada yang bisa kita diskusikan?" Ini jauh lebih efektif daripada "Sudah kubilang jangan begitu!"
_____
Teori ini melatih kita untuk berhenti menjadi "polisi" yang selalu meniup peluit setiap kali ada kesalahan kecil, dan mulai menjadi "kompas" yang menunjukkan arah ketika mereka yaitu istri, anak, murid, orang-orang terdekat, dirasa tersesat setelah mencoba jalan mereka sendiri.
"Let Them" bukan berarti Anda membiarkan orang menginjak-injak Anda. Ini berarti Anda membiarkan mereka menunjukkan siapa mereka, sehingga Anda tahu persis harus berdiri di mana.
*****
Dari sini kita menjadi tau, jika kita merasa dekat dan bertanggung jawab dengan seseorang maka, “Let Them” adalah alat untuk diagnosa, yang kita kemudian wajib memperhatikan, memberitahu, menegur, menasehati, meluruskan, apabila mereka keliru, salah, tersesat, berpotensi rusak dan hancur.
Dari sini kita menjadi tau, berbahagialah jika ada orang-orang disekitar kita yang memperhatikan, memberitahu, menegur, menasehati, meluruskan, apabila diri kita keliru atau salah, karena itu tanda mereka menganggap kita dekat, memperhatikan kita, menyayangi kita, mencintai diri kita.
Dari sini kita menjadi tau, jika diri kita tidak diperhatikan, tidak diberitahu, tidak ditegur, tidak dinasehati, tidak diluruskan, maka itu jangan-jangan suatu tanda dari seseorang yang membiarkan kita “Let Them” tidak (lagi) mengurusi kita, tidak peduli dengan kita atau mereka sedang mengubah posisi dimana mereka berdiri, terhadap diri kita.
Wallahu a’lam.
Sebuah rahasia tersembunyi dari rasa lapar, bahwa lapar sejatinya teman, dan rasa kenyang adalah musuh tersembunyi didalam diri.
Banyak diantara kita panik saat perut mulai lapar atau bunyi "keroncongan", seolah itu sinyal darurat harus segera makan, perut yang harus segera “diganjal”. Padahal, lapar bukan berarti tubuh kehabisan energi, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang bersiap berpindah mode dari "Menyimpan" ke "Membakar".
Padahal, ketika kita membiarkan rasa lapar bertahan (semisal: minimal 12-16 jam tanpa kalori), tubuh mengaktifkan proses bernama Autofagi. Menurut riset peraih Nobel, Yoshinori Ohsumi, Autofagi adalah mekanisme "pembersihan sel otomatis" di mana tubuh memakan sel-sel yang rusak, protein basi, dan tumpukan lemak menjadi keton atau energi bahan bakar baru tubuh. Rasa lapar sebenarnya adalah tanda bahwa tim pembersih internal kamu sedang siap bekerja merenovasi tubuh agar tetap “awet muda” regenerasi sel tua dan memininalisir dari berbagai resiko penyakit.
Sebaliknya, kenyang yang berlebihan terutama karena sering makan, ngemil atau memasukkan karbo, gula, atau minyak terlalu banyak, justru bisa menjadi musuh didalam “kuda troya” yang diam-diam masuk kedalam tubuh.
Saat kita terus-menerus kenyang, hormon Insulin akan terus tinggi. Kadar insulin yang kronis menghalangi tubuh membakar lemak dan justru memicu peradangan (inflamasi) serta risiko insulin resisten dan kemudian diabetes, awal dari komplikasi banyak penyakit. Seperti memiliki sebuah gudang yang terus diisi barang tanpa pernah dikeluarkan, gudang tersebut akan penuh sesak, bau dan juga kotor serta akhirnya rusak.
Sebuah studi dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism mengungkapkan bahwa memberi jeda lapar atau “puasa singkat” dapat meningkatkan metabolisme sebesar 3% hingga 14%. Lapar akan meningkatkan hormon pertumbuhan (HGH) secara masif, yang berfungsi menjaga massa otot dan membakar lemak lebih efisien daripada saat kita terus-menerus dalam kondisi kenyang.
Jangan panik atau memusuhi rasa lapar, sebaliknya sambutlah dia sebagai teman bagi tubuhmu yang sedang melakukan “maintenance” bagi tubuhmu. Jadikan lapar sebagai teman perjalanan menuju badan yang lebih sehat.
Sebaliknya, waspadalah pada rasa kenyang yang seringkali hanyalah nafsu sesaat. Makan akan terasa lebih nikmat dan dinaungi penuh keberyukuran ketika kita benar-benar dalam keadaan lapar. Serta tentunya jangan lupa untuk selalu makan makanan yang bernutrisi bagi tubuh kita.
*****
Rasa lapar yang menjadi sinyal maintenance tubuh, sebagaimana mekanisme autofagi, memiliki kemiripan fundamental dengan kondisi spiritual seorang penuntut ilmu. Dalam pandangan Islam, rasa lapar bukan sekadar menahan fisik, melainkan metode untuk membersihkan diri secara maknawi.
Perasaan "kenyang akan ilmu" atau merasa sudah pintar justru akan menghalangi masuknya hidayah dan ilmu, karena ego yang membengkak bertindak sebagai penghalang nutrisi kebijaksanaan ke dalam jiwa.
Penggunaan analogi "gudang yang penuh sesak" diatas. diharapkan memberi relevansi dengan fenomena intellectual arrogance yang mana jika seseorang merasa sudah mencapai puncak ilmu (merasa sudah kenyang ilmu), maka ia akan berhenti berproses, dan perlahan ilmunya akan membawa kerusakan mental berupa kesombongan.
Padahal, seorang manusia yang penuh dengan lautan ilmu, yaitu khalifah Umar bin Khattab pernah memberikan pesan mendalam tentang fase belajar. Umar menggambarkan bahwa ilmu itu terdiri dari tiga jengkal; (1) jengkal pertama membuat orang sombong, (2) jengkal kedua membuat orang tawadhu, (3) dan jengkal ketiga membuat orang merasa bahwa ia tidak tahu apa-apa.
Baca juga:
https://menitijalanlurus.com/blog/maiyah
Filosofi "selalu lapar" ini sejalan dengan prinsip Stay Hungry, Stay Foolish yang populer di dunia modern, namun berakar kuat pada nilai Long Life Learning. Dalam ilmu agama, kondisi dimana selalu merasa butuh (faqir) di hadapan luasnya ilmu Allah adalah kunci utama ilmu yang menjadi asbab keberkahan. Orang yang merasa kenyang ilmu yang sudah diketahuinya atau merasa sudah kenyang dengan gelarnya, akan mengalami “stagnasi metabolisme intelektual”.
Sebaliknya, mereka yang merasa lapar akan selalu mencari "nutrisi" baru, bertanya, dan meneliti. Kerendahan hati untuk mengakui ketidaktahuan adalah bentuk "autofagi mental", di mana seseorang itu menghancurkan prasangka-prasangka lama (yang keliru) untuk kemudian membangun pondasi kebenaran yang lebih kokoh dan awet muda, selalu hijau secara pemikiran.
Secara biologis, lapar meningkatkan hormon pertumbuhan (HGH). Adapun secara intelektual, sedangkan rasa haus akan ilmu meningkatkan kapasitas kognitif dan ketajaman intuisi. Sebagaimana tubuh yang justru lebih kuat saat diberi jeda makan, akal pun membutuhkan jeda dari rasa "puas diri" agar massa otot kebijaksanaan tetap terjaga.
Seorang Ulama pernah berpesan bahwa ilmu (agama) itu bagaikan air laut, semakin diminum oleh orang yang haus, ia akan semakin merasa haus namun dahaga spiritualnya terarah pada kebenaran yang lebih tinggi. Tanpa rasa lapar akan ilmu, manusia hanya akan menjadi tumpukan informasi yang tidak memiliki nilai guna, persis seperti gula dan minyak yang menumpuk dalam tubuh tanpa pernah dibakar menjadi energi.
Janganlah kita takut pada kondisi "kosong" atau belum tahu, karena di sanalah proses renovasi diri dimulai. Karena menjadi pribadi yang "selalu hijau" berarti siap untuk tumbuh dan mekar, sedangkan merasa sudah matang (kenyang) seringkali merupakan awal dari pembusukan.
Mari kita sambut setiap ketidaktahuan sebagai tanda bahwa kita sedang dipanggil untuk melakukan maintenance iman dan intelektual. Dengan selalu akal tetap merasa lapar akan kebenaran, selalu menjaga nutrisi ilmu dari racun syubhat. Kita tidak hanya mendapatkan badan yang sehat melalui autofagi, tetapi juga bisa mendapati jiwa yang sehat, tangguh, rendah hati, dan senantiasa bersyukur atas setiap tetes ilmu baru yang kita terima dalam keadaan lapar.
Serta ingat, tentunya jangan lupa untuk selalu memilih serta mengkonsumsi ilmu yang penuh nutrisi bagi keimanan kita.
Wallahu a’lam.
Maiyah, secara bahasa berasal dari kata dalam bahasa Arab “ma‘a” (مع) yang berarti “bersama”.
Maiyah, secara konteks yang dimaksud maknanya adalah bersama Allah, bersama sesama manusia, dan bersama mencari kebenaran.
Maiyah, pada pembahasan kali ini berkaitan dengan komunitas pemikiran dan “pengajian” yang dipimpin oleh budayawan Indonesia, yaitu Emha Ainun Nadjib, yang lebih dikenal sebagai Cak Nun.
*****
Siapakah Cak Nun?
Cak Nun adalah seorang budayawan, penulis, penyair, pemikir sosial dan juga sering didapati bicara perihal keagamaan Islam. Ia dikenal sering mengadakan forum diskusi dan pengajian budaya yang membahas agama, sosial, politik, dan kehidupan sehari-hari dengan pendekatan santai, dialogis, dan reflektif yang kemudian dikenal sebagai : “Maiyah”.
_____
Apakah itu Maiyah?
Maiyah, adalah forum belajar bersama (bukan organisasi formal), pengajian budaya dan spiritual, diskusi terbuka antara Cak Nun dan masyarakat. Ciri-cirinya tidakmemiliki struktur (organisasi) resmi, tidak ada keanggotaan, orang-orang datang untuk belajar, berdiskusi dan refleksi hidup.
Maiyah, biasanya diisi dengan diskusi sosial dan budaya, termasuk politik, diskusi agama dan kehidupan, ada sesi tanya jawab, musik dari grup “Kiai Kanjeng”, serta refleksi sosial dan spiritual
Istilah Maiyah, biasanya merujuk pada komunitas atau simpul Maiyah yang berada “di seberang” (di luar tempat utama acara).atau jamaah Maiyah yang mengikuti pemikiran Cak Nun dari daerah lain.
Dalam komunitas Maiyah sendiri, kelompok-kelompok ini sering disebut “simpul Maiyah”, misalnya: Mocopat Syafaat (Yogyakarta); Bangbang Wetan (Surabaya); Kenduri Cinta (Jakarta). Alias masing-masing daerah punya forum Maiyah sendiri.
*****
Pandangan Islam terhadap aktivitas seperti forum Maiyah memang tidak tunggal. Penilaiannya biasanya dilihat dari kaidah umum dalam syariat tentang ilmu, dakwah, dan majelis ilmu. Karena itu ada pihak atau kalangan Muslim yang menerima sebagian sisi, dan ada juga yang mengkritik (pembahasan agama) dengan pendekatan tersebut.
_____
1. Dalam Islam, berbicara tentang agama seharusnya berdasarkan ilmu
Dalam banyak ayat dan hadits, berbicara tentang agama tanpa ilmu diperingatkan keras. Contohnya dalam Al-Qur’an (An-Nahl: 43): “Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.”
Yang singkatnya terkait urusan hukum agama, tafsir, aqidah, seharusnya dijelaskan oleh ahli ilmu (seorang yang berilmu) bukan oleh siapa saja tanpa dasar ilmu (agama) yang jelas.
Karena itu sebagian ulama yang tegak lurus terhadap metode dan metodologi dakwah Islam mengkritik model forum di mana semua orang bebas berbicara tentang agama tanpa batasan keilmuan.
Idealnya semua tentu sepakat bahwa majelis ilmu dipimpin oleh seseorang yang berilmu, memiliki rujukan kitab, memiliki sanad, mengikuti metodologi ilmu syariat.
Sedangkan dalam Maiyah, konsepnya lebih kepada belajar bersama, bukan pengajian formal. Hal ini dipandang oleh sebagian kalangan lainnya, cenderung kurang kuat dari sisi keilmuan syariat.
_____
2. Konsep “belajar bersama” tanpa otoritas ulama
Dalam Maiyah, Cak Nun sering mengatakan bahwa dirinya bukan guru agama, tetapi hanya teman (ngobrol) belajar bersama jamaah. Konsep ini membuat forum menjadi sangat terbuka siapa saja boleh berpendapat tanpa ilmu dan pagar pembatas yang jelas.
Baca Juga:
Pendukungnya, melihat ini sebagai kerendahan hati dan ruang berpikir bebas. Namun sebagian lainnya, mengkritik karena dalam tradisi Islam, ilmu agama biasanya dipelajari melalui sanad keilmuan, ada guru yang jelas keahliannya.
⸻
3. Diskusi umum tentang kehidupan sebenarnya tidak masalah
Jika forum tersebut lebih berupa diskusi sosial, budaya, atau refleksi kehidupan, maka pada dasarnya diskusi terbuka (dalam rangka mencari solusi) tidak dilarang dalam Islam, bukan debat kusir. Selama juga tidak menyimpangkan aqidah atau hukum syariat. Dalam sejarah Islam, para ulama juga sering, berdialog, berdiskusi, bahkan berdebat ilmiah.
⸻
4. Kehadiran tokoh non-Muslim (namun masuk dalam pembahasan Agama Islam).
Jika ada pembicara non-Muslim dalam forum sosial atau budaya, para ulama biasanya akan membedakan dua hal:
* Diperbolehkan, jika membahas isu sosial, kemanusiaan, budaya, ilmu umum, bukan membahas atau malah mengajarkan tentang agama Islam.
* Dipermasalahkan/dilarang, jika berbicara tentang ajaran Islam, memberi tafsir sendiri terhadap orang-orang beragama Islam, atau yang sifatnya bisa mempengaruhi aqidah umat. Karena dalam Islam, penjelasan agama seharusnya dari ulama Muslim yang memiliki ilmu syar’i.
⸻
5. Kekhawatiran terhadap forum seperti ini
Sebagian kalangan dakwah yang tegak lurus dengan metode dan metodologi dakwah mengkritik forum seperti Maiyah ini, karena beberapa hal, diantaranya:
* Tidak jelas otoritas keilmuan agama.
* Campur antara budaya, filsafat, dan agama.
* Semua orang boleh berbicara.
* Musik dan format hiburan dalam pengajian yang diperdebatkan keikutsertaannya dalam rangka dakwah Islam.
Maiyah seperti ini dianggap sangat berpotensi membuat agama menjadi opini, bukan ilmu yang bersandar pada dalil.
Sebagian pihak yang tegak lurus menilai bahwa dalam beberapa forum Maiyah agama dibahas seperti diskusi opini, siapa saja boleh menafsirkan, tidak perlu selalu ada rujukan ulama ahli tafsir atau fiqh.
Padahal dialam tradisi Islam klasik, tafsir Al-Qur’an dan penjelasan hukum syariat memiliki disiplin ilmu yang ketat, seperti penguasaan ilmu tafsir, ilmu hadits, ushul fiqh, bahasa Arab, bukan dilakukan oleh “budayawan”. Ada kekhawatiran orang awam bisa salah memahami agama.
Dalam forum Maiyah sering dibahas banyak hal sekaligus, misalnya: agama, budaya Jawa, kritik sosial, politik, filsafat kehidupan. Sebagian ulama khawatir bahwa pencampuran ini bisa membuat batas antara ajaran agama dan opini manusia menjadi kabur.
Dalam beberapa kesempatan, Cak Nun dalam Forum Maiyah, berbicara tentang pandangan yang terlalu inklusif semisal: toleransi antar agama yang terlalu inklusif, dialog (tentang Agama) dengan non-Muslim, persaudaraan atau kemanusiaan secara umum.
Bagi banyak orang ini dianggap pendekatan dakwah yang lembut dan humanis. Tetapi sebagian kalangan khawatir jika pernyataan tersebut ditafsirkan sebagai relativisme agam atau mengaburkan batas aqidah. Walaupun dalam banyak kesempatan Cak Nun juga menegaskan dirinya tetap Muslim.
⸻
6. “Pros” yang sering disebut oleh pelaku atau pendukungnya
Pendukung Maiyah biasanya melihatnya sebagai ruang refleksi spiritual masyarakat, pendekatan budaya dalam dakwah, tempat orang awam belajar berpikir tentang kehidupan.
Mereka biasanya tidak menganggapnya sebagai majelis fiqh atau pengajaran syariat formal, yang pada faktanya membahas perihal agama didalamnya. Atau membuka potensi adanya syubhat pemahaman dan pembahasan terkait agama yang datang dari penjelasan berbasis pendapat atau opini orang-orang yang bukan ahlinya, bukan dari sosok ahli ilmu yang bersandar pada Al Quran dan Al Hadits sebagaimana pemahaman yang sebenarnya dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dan Para Sahabat.
*****
Kesimpulan dari sudut pandang prinsip Islam, yaitu:
Diskusi sosial dan budaya boleh saja, selama tidak menyesatkan aqidah. Non-Muslim boleh berdiskusi tentang isu umum, tetapi bukan mengajarkan agama Islam. Majelis (yang didalamnya membahas ilmu agama) idealnya dipimpin oleh seseorang yang memiliki ilmu syar’i. Karena berbicara tentang agama tetapi bukan pemilik ilmu, atau tanpa ilmu sangat-sangat direkomendasikan untuk ditinggalkan, alias sangat tidak dianjurkan.
Wallahu a’lam.
Pada Substansi Fenomena Berlebihan Dalam Makhrijul Huruf dan Tajwid
“Tanaththu’” di dalam syariat adalah sebuah peringatan keras bagi kita agar tidak melampaui batas dalam beragama maupun berucap. Secara bahasa, yaitu bermakna menyelam terlalu dalam atau berlebih-lebihan, sehingga malah memusingkan atau menyulitkan (baca : ribet).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebanyak tiga kali, “Binasalah orang-orang yang Tanaththu’ (al-mutanaththi’un).” (HR. Muslim)
*****
“Tanaththu’” dalam substansinya adalah sikap berlebih-lebihan yang melewati batas kewajaran (ghuluw), mempersulit sesuatu yang seharusnya mudah, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun cara berpikir. Ini adalah sikap "sok teliti" atau "sok suci" pada tempat yang tidak diperintahkan oleh syariat.
_____
Implementasi Tanaththu’ dalam implementasi pada beberapa contoh kasus:
1. Dalam Ibadah (Sok Berat):
Seseorang yang bersikeras tidak mau makan daging atau tidak mau tidur malam selamanya demi ibadah, padahal Rasulullah shalllahu ‘alaihi wasallam saja makan daging dan tidur. Atau dalam berwudhu, seseorang yang was-was sampai membasuh anggota tubuh 10 kali padahal sunnahnya maksimal 3 kali. Ini adalah tanaththu’. Atau dalam shalat malam yang seakan diwajibkan harus setiap malam, padahal hukum asalnya tidak wajib. Harus berpakaian ala “Ulama Arab” ketika ibadah atau bekerja, padahal berpakaian bisa biasa saja (sesuai kondisi) asalkan bersih, sopan, dan menutup aurat.
2. Dalam Masalah Hukum/Fiqh (Sok Detail):
Bertanya tentang rincian masalah yang belum terjadi atau masalah yang sangat kecil dan tidak bermanfaat (as-su’al 'amma la ya'nihi). Seperti kaum Nabi Musa yang terus bertanya detail warna dan ciri sapi betina, padahal perintah aslinya sederhana: "Sembelihlah sapi betina." Membahas bagaimana cara shalat di bulan. Atau membahas masalah-masalah sederhana namun dipersulit, semisal harus pakai whiteboard, presentasi PPT yang kompleks, rumus-rumus yang susah, kelas khusus, kelas berbayar, atau terlalu berlebihan sampai ke pembahasan penulisan titik, koma, tanda baca, halaman, sampai nomor-nomor bab.
3. Dalam Ucapan (Sok Fasih/Sastra):
Menggunakan gaya bahasa yang dibuat-buat, terlalu bersayap, atau sengaja menggunakan istilah-istilah sulit hanya agar terlihat berilmu (intelektual) sehingga justru menjauhkan orang dari maksud aslinya. Membaca Al Qur’an dengan teori-teori buatan baru yang sulit, standar buatan baru tertentu, cara baca atau langgam yang sulit. Ini juga disebut tanaththu’ dalam lisan.
*****
Lalu apa yang dimaksud “Pelakunya Disebut Binasa"? maksudnya adalah bahaya, karena sikap seperti ini sangat berbahaya:
Baca Juga:
* Memberatkan diri sendiri: Agama itu mudah, tapi orang yang tanaththu’ akan membuat dirinya sendiri lelah dan akhirnya burnout (putus asa) dalam beramal.
* Menimbulkan Fitnah: Membuat orang lain takut atau antipati terhadap agama karena dianggap terlalu rumit dan berat.
* Kesombongan Tersembunyi: Merasa dirinya lebih bertakwa atau lebih cerdas karena melakukan hal yang lebih detail/berat dari orang lain.
Lahh, memangnya kamu tau apa yang ada didalam hati seseorang? (menilai kesombongan dalam hati seseorang)
Lohh, larangan ini datang dari Allah Azza wa Jalla yang Maha Mengetahui, dan larangan seperti ini kemudian disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
*****
Dalam substansi membaca Al Qur’an, Syaikh Shalih Al Fauzan, pernah menasehatkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam membaca Al Qur’an, dalam makrihjul huruf, dalam tajwid dan sebagainya dengan teori-teori baru belakangan buatan manusia yang (malah) menyulitkan dan membuat takut menjauh dari belajar, yang mana bahkan ini tidak ada / tidak dikenali oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat, dimana disebutkan oleh Syaikh Fauzan, ini bisa termasuk kedalam tanaththu’.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (Al-Qamar: 17)
Sesuai dengan konteks pembahasan kita tentang tanaththu' (berlebih-lebihan), ayat ini adalah "obat"-nya:
1. Kemudahan Mutlak: Allah menggunakan kata “Yassarna” (Kami mudahkan). Ini mencakup kemudahan dalam membacanya, menghafalnya, hingga memahami pesan dasarnya. Jadi, jika ada orang yang menganggap Al-Qur'an itu "sangat sulit dan hanya untuk level tinggi saja", dia sebenarnya sedang terjebak tanaththu'.
2. Tujuan Peringatan: Al-Qur'an diturunkan sebagai “Lidzikri” (untuk peringatan/pengingat). Bukan sekadar pajangan atau bahan pamer cara membaca, atau bahan perdebatan intelektual yang rumit tanpa amal.
3. Tantangan Terbuka: Kalimat "Fahal min muddakir" adalah bentuk tantangan halus dari Allah. Allah sudah buka jalannya, sudah dimudahkan fasilitasnya, sekarang tinggal kembali ke manusia mau memahami dengan mudah dan mengamalkannya, atau sibuk dengan bacaan dan perdebatannya saja?
*****
Semoga diri kita termasuk orang-orang yang dimudahkan mempelajari dan memahami Al Qur’an, bukan sibuk bicara, sibuk melantunkan dengan teknik yang sulit, namun tidak memahami pesan pelajaran, dan sulit dalam mengamalkannya.
Wallahu a’lam.