Bismillah,
Ada satu kebiasaan yang hampir dimiliki oleh seluruh manusia ketika menghadapi masalah, yaitu kita terlalu cepat menyimpulkan, terlalu cepat pula mencari solusi.
Ketika penjualan turun, kita mengganti tim marketing. Ketika anak nilainya menurun, kita menyalahkan gadget. Ketika hubungan memburuk, kita menyalahkan komunikasi. Ketika semangat ibadah menurun, kita mencari motivasi baru.
Padahal sering kali masalah yang terlihat di permukaan hanyalah gejala, sedangkan akar persoalannya berada jauh di bawahnya.
Akibatnya, masalah tampak selesai untuk sementara, namun kembali muncul dalam bentuk yang berbeda.
Kita hanya memperbaiki “daun yang layu”, sementara “akar yang sakit” tetap dibiarkan.
⸻
Di dunia industri terdapat sebuah metode sederhana namun sangat terkenal yang dikenal dengan nama 5 Whys Method. Metode ini dipopulerkan oleh Sakichi Toyoda sebagai bagian dari budaya perbaikan berkelanjutan di Toyota.
Prinsipnya sederhana: Yaitu, ketika sebuah masalah muncul, jangan berhenti pada jawaban pertama.
Teruslah bertanya: “Mengapa hal itu terjadi?”
Kemudian tanyakan kembali: “Mengapa penyebab itu bisa terjadi?”
Lalu terus ulangi lagi lima kali hingga ditemukan penyebab yang paling mendasar.
Note: Angka lima bukanlah aturan baku, kadang akar masalah ditemukan setelah tiga pertanyaan, kadang membutuhkan tujuh. Tujuannya bukan mencapai angka tertentu, tujuannya adalah menemukan akar persoalan sebelum menentukan solusi.
⸻
Misalnya sebuah perusahaan mengalami penurunan penjualan.
Kesimpulan tercepat biasanya: “Tim marketing kurang bagus.”
Namun ketika ditelusuri lebih dalam:
Mengapa penjualan turun? Karena banyak pelanggan membatalkan pesanan.
Mengapa pelanggan membatalkan pesanan? Karena pengiriman sering terlambat.
Mengapa pengiriman terlambat? Karena stok barang sering kosong.
Mengapa stok kosong? Karena sistem perencanaan persediaan tidak pernah diperbarui sesuai pola permintaan pelanggan.
Ternyata masalah utamanya bukan pada pemasaran, masalahnya berada pada sistem persediaan. Jika perusahaan hanya mengganti tim marketing, kemungkinan besar masalah akan kembali muncul, karena masalahnya adalah sistem persediaan (ketersediaan barang).
⸻
Contoh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah seseorang yang sering terlambat.
Mengapa ia terlambat? Karena bangun kesiangan.
Mengapa bangun kesiangan? Karena tidur terlalu larut.
Mengapa tidur terlalu larut? Karena terlalu lama menggunakan telepon genggam.
Mengapa sulit berhenti menggunakan telepon genggam? Karena belum memiliki disiplin waktu dan pengendalian diri yang baik.
Sekali lagi, akar masalahnya ternyata bukan alarm yang kurang keras. Masalahnya ternyata berada lebih dalam, yaitu disiplin dan pengendalian diri.
*****
Metode ini mengajarkan satu pelajaran penting, yaitu: Sering kali masalah yang terlihat bukanlah masalah yang sebenarnya, dan semakin kompleks sebuah persoalan, biasanya semakin berbahaya jika kita terlalu cepat menyimpulkan penyebabnya.
Menariknya, Al-Qur’an juga mengajarkan manusia untuk memperhatikan sebab-sebab, bukan hanya akibat.
Ketika terjadi kekalahan kaum Muslimin dalam Perang Uhud, Al-Qur’an tidak hanya menyebutkan hasil akhirnya berupa kekalahan.
Allah juga menjelaskan sebagian sebab yang melatarbelakanginya, di antaranya adanya sebagian pasukan yang meninggalkan posisi yang telah diperintahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mereka jaga. Pelajarannya sangat jelas, yaitu: Memahami sebab adalah bagian dari memperbaiki akibat.
⸻
Demikian pula dalam kehidupan seorang Muslim. Ketika seseorang merasakan ibadahnya mulai berat, semangat menuntut ilmu berkurang, atau hatinya terasa keras, sering kali yang dicari hanyalah motivasi sesaat.
Padahal mungkin diperlukan pertanyaan yang lebih dalam.
Tidak semua persoalan spiritual memiliki penyebab yang sama, namun muhasabah sering kali dimulai dari keberanian untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri.
⸻
Di sinilah letak pentingnya membedakan antara alat dan sumber kebenaran.
5 Whys adalah alat berpikir, metode ini membantu manusia menyusun pertanyaan dengan lebih sistematis, walaupun ia bukan penentu benar dan salah.
Bagi seorang Muslim, standar kebenaran tetaplah Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Metode hanyalah membantu kita berpikir lebih baik, sedangkan wahyu (dalil) membantu kita berjalan ke arah yang benar. Keduanya tidak harus dipertentangkan selama masing-masing ditempatkan pada posisinya.
⸻
Salah satu pelajaran terbesar dari 5 Whys bukanlah bagaimana menemukan kesalahan orang lain, melainkan bagaimana menemukan akar masalah di dalam diri sendiri.
Karena jauh lebih mudah menyalahkan keadaan daripada mengakui kelemahan pribadi, jauh lebih mudah memperbaiki gejala daripada memperbaiki akar, jauh lebih mudah mencari kambing hitam (orang lain) daripada melakukan muhasabah (diri sendiri).
Padahal perubahan besar hampir selalu dimulai dari keberanian melihat akar persoalan di dalam diri sendiri dengan jujur.
⸻
Seorang mukmin tidak hanya bertanya: “Apa yang salah?”
Tetapi juga bertanya: “Apa yang perlu aku perbaiki?” “Apa yang selama ini aku abaikan?” “Apa yang belum aku tunaikan kepada Allah?”
Karena terkadang jawaban dari masalah yang kita hadapi tidak berada di luar diri kita, melainkan ia berada jauh di dalam diri kita sendiri.
⸻
Pada akhirnya, banyak masalah dunia dapat diselesaikan dengan analisis yang baik, namun masalah akhirat tidak akan pernah selesai tanpa taubat, ilmu, dan perbaikan hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Dan mungkin itulah “why” yang paling penting dari seluruh pertanyaan yang kita ajukan dalam hidup ini:
“Mengapa aku diciptakan?”
Karena ketika pertanyaan terakhir ini terjawab dengan benar, banyak pertanyaan lain akan menemukan jawabannya dengan sendirinya.
Wallahu a’lam.
Bismillah
Di tengah begitu banyaknya perbedaan pandangan atau sudut pandang di dalam Islam, akan muncul sebuah pertanyaan yang hampir pasti pernah terlintas dalam benak setiap Muslim yang ingin mencari kebenaran dengan tulus:
Bagaimana cara memahami Islam sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya kehendaki?
Karena hampir semua kelompok mengaku berpegang kepada Al-Qur’an, hampir semua kelompok mengaku mengikuti Sunnah. Semua mengaku “Ahlussunnah”, namun mengapa hasil pemahamannya bisa berbeda?
Sebenarnya, siapa yang paling berhak menjelaskan makna Al-Qur’an dan Sunnah?
Apakah generasi orang yang hidup 14 abad setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?
Ataukah generasi yang hidup bersama beliau, yang menyaksikan turunnya wahyu, yang mendengar penjelasan beliau secara langsung, yang di tarbiyah beliau dan melihat bagaimana Islam dipraktikkan dalam kehidupan nyata?
*
Setiap hari, minimal tujuh belas kali, seorang Muslim membaca: “Ihdinash shirathal mustaqim. Shirathalladzina an’amta ’alaihim. Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.” (Al-Fatihah: 6–7)
Ayat ini memberi gambaran bahwa jalan yang lurus bukan sekadar konsep abstrak tanpa contoh. Bahwa ia pernah diwujudkan oleh manusia-manusia nyata. Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang diberi nikmat.
Allah menjelaskannya siapa mereka di dalam firman-Nya: “Barangsiapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh.” (An-Nisa: 69)
Dan generasi pertama yang paling jelas masuk dalam kategori tersebut adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beserta para sahabat beliau. Merekalah generasi yang menerima Islam langsung dari sumbernya.
*
Para sahabat bukan manusia yang maksum. Mereka bisa salah dalam ijtihad, bisa berbeda pendapat dalam sebagian masalah cabang, mereka tetap manusia biasa, namun mereka memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki generasi setelah mereka:
Karena itu, ketika ada perbedaan dalam memahami suatu nash, pertanyaan yang diajukan adalah:
Bagaimana para sahabat memahaminya?
Bukan karena mereka dikultuskan, tetapi karena mereka adalah generasi yang paling dekat dengan sumber ajaran.
*
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (At-Taubah: 100)
Ayat ini mengandung dua pelajaran penting.
Dengan kata lain, mengikuti generasi awal bukan sekadar pilihan historis, tetapi merupakan prinsip yang mendapatkan legitimasi langsung dari Al-Qur’an.
Allah Azza wa Jalla juga berfirman “Barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang dipilihnya dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam.” (An-Nisa: 115)
Note: Ketika ayat ini turun, orang-orang mukmin yang ada saat itu adalah mereka yaitu para sahabat Rasulullah shallalalhu alaihi wasalalm.
Karena itu para ulama menjadikan ayat ini sebagai salah satu dalil penting tentang kedudukan ijma’ para sahabat dan pentingnya tidak menyelisihi jalan mereka.
Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda: “Wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku.” (Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dalam hadits lain, ketika menjelaskan kelompok yang selamat, beliau menyebut:
“Yaitu mereka yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini.”
Meskipun mungkin para ulama berbeda dalam pembahasan detail sanad dan lafaz sebagian riwayat tentang firqah, namun makna umumnya sejalan dengan prinsip besar yang berulang kali ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, bahwa generasi sahabat adalah generasi teladan dalam memahami agama.
*
Lalu apakah itu “Manhaj Salaf” ?
Manhaj Salaf bukanlah keyakinan bahwa setiap individu sahabat pasti benar dalam seluruh perkara, bukan pula pengkultusan terhadap tokoh-tokoh tertentu, bukan garansi bagi yang mengaku-ngaku pastilah selamat atau sudah “mengkapling” Surga.
Yang dimaksud adalah (menjadikan) pemahaman generasi terbaik umat ini sebagai rujukan utama dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah, karena mereka adalah generasi yang dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya.
Mereka bukan sumber wahyu, tetapi mereka adalah generasi yang paling memahami wahyu.
*
Setiap zaman (mungkin) melahirkan ide, filsafat, dan cara pandangnya sendiri.
Di tengah berbagai arus tersebut, pemahaman para sahabat atau Manhaj Salaf berfungsi sebagai jangkar yang menjaga seorang Muslim tetap terhubung dengan sumber ajaran yang asli.
Pertanyaannya bukan: “Apa yang menurut saya paling masuk akal?”
Tetapi: “Bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan para sahabat memahami perkara ini?”
Karena Islam tidak dimulai pada abad ini. karena Islam telah sempurna sejak masa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.
*
Kita sampai pada inti pembahasan, bahwa ini bukanlah tentang sebuah label, bukan pula tentang (memenangkan) perdebatan.
Karena yang lebih penting adalah memastikan bahwa cara kita memahami Islam memiliki landasan yang kuat dan bersambung kepada generasi yang menerima agama ini langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.
Jika Al-Qur’an adalah petunjuk. Jika Sunnah adalah penjelasnya.
Maka pemahaman para sahabat adalah jembatan pertama yang menghubungkan keduanya kepada umat setelah mereka.
Karena itu, mempelajari dan mengikuti pemahaman Salaf bukanlah bentuk fanatisme kepada manusia. Ini adalah upaya untuk mendekati Islam sebagaimana pertama kali diajarkan, dipahami, dan diamalkan oleh mereka generasi terbaik umat ini.
Semoga Allah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus, jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.
Salafi adalah pemahaman beragamanya para sahabat, yang menjadi akar dari ibadah dan muamalah dalam kehidupan sebagai manusia. Salafi bukanlah sekedar pengakuan, apalagi hanya sekedar pakaian.
Wallahu a’lam.
Bismillah.
Ada dosa yang tidak membutuhkan kekayaan untuk melakukannya.
Tidak membutuhkan jabatan. Tidak membutuhkan popularitas.
Orang biasa bahkan miskin pun bisa terjatuh ke dalamnya, dosa itu adalah kesombongan.
Banyak orang mengira kesombongan hanya dimiliki oleh orang kaya yang memamerkan hartanya, padahal kesombongan bisa jauh lebih dalam daripada itu.
Sombong karena tampangnya. Sombong karena ibadahnya. Sombong karena nasabnya. Sombong karena kepintarannnya. Sombong kepada yang dibawahnya. Sombong kepada yang diatasnya.
Bahkan sombong karena merasa dirinya lebih baik daripada orang lain dalam urusan agama. _
Karena hakikat kesombongan bukan terletak pada apa yang dimiliki, tetapi pada bagaimana seseorang memandang dirinya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (Muslim)
Maka ukuran kesombongan bukanlah berapa banyak harta yang kita miliki, melainkan bagaimana hati kita bereaksi ketika kebenaran datang kepada kita dan suatu hal yang kita perbandinglan dengan diri kita.
Apakah kita menerimanya? ataukah kita menolaknya karena tidak suka dengan manusia yang menyampaikan?
Apakah kita menghargai manusia? ataukah kita merasa lebih tinggi dari mereka? padahal kita sama-sama manusia.
****
Dosa besar pertama yang tercatat dalam sejarah bukanlah zina, bukan pembunuhan, bukan pencurian, melainkan kesombongan.
Penolakan terhadap kebenaran adalah kesombongan. Ketika Allah memerintahkan Iblis untuk sujud kepada Adam, ia menolak, bukan karena tidak mengetahui perintah Allah, bukan karena tidak memahami perintah tersebut, tetapi karena merasa dirinya lebih baik.
“Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raf: 12)
Iblis itu pintar, bukan kurang ilmu. Iblis itu taat, bukan kurang ibadah.
Namun menghancurkannya adalah satu sifat dan sikapnya yaitu : “Aku lebih baik.”
Kalimat yang sederhana, namun cukup mengeluarkan Iblis dari rahmat Allah, dan kekal didalam Neraka.
Allah berfirman: “Bukankah dalam Jahannam ada tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” (Az-Zumar: 60)
*
Taukah kamu bahwa kesombongan adalah “pencuri” hidayah?
Mengapa ada orang yang sulit menerima nasihat? Mengapa ada orang yang selalu merasa benar? Mengapa ada orang yang terus mengulang kesalahan yang sama?
Sering kali jawabannya bukan karena kurang ilmu, tetapi karena adanya kesombongan telah menutup mata, telinga, dan hati dari pintu hidayah.
Allah berfirman: “Aku akan memalingkan dari tanda-tanda kekuasaan-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar.” (Al-A’raf: 146)
Ayat ini samgat menakutkan, karena Allah tidak mengatakan bahwa mereka tidak melihat kebenaran, tetapi Allah memalingkan mereka dari kebenaran.
Mereka melihat, Mereka mendengar, Mereka memahami, Tetapi hati yang enggan tunduk.
Yang mana ketika hati tidak mau tunduk, ilmu tidak lagi memberi manfaat.
*
Karena, yang paling menakutkan bukan kesombongan yang kita miliki (hari ini), tetapi kesombongan yang (masih) terus kita pelihara, tanpa menyadarinya.
Para ulama salaf sangat takut terhadap su’ul khatimah, bukan karena mereka ragu terhadap rahmat Allah, tetapi karena mereka memahami bahwa hati manusia berada di antara jari-jari Ar-Rahman.
Pemahaman para sahabat dan para ulama salaf yaitu mereka lebih takut terhadap penyakit kesombongan yang tersembunyi daripada dosa yang tampak di mata manusia.
Karena dosa kesombongan, tidak masuk Surga, tidak bahkan mencium wangi Surga. Karena dosa kesombongan setara dengan iblis, setara dengan kekekalan di Neraka.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada Hari Kiamat seperti semut-semut kecil dalam rupa manusia. Mereka diliputi kehinaan dari segala arah. Mereka digiring (disapu) ke sebuah penjara di Jahannam yang bernama Bulas. Mereka ditutupi oleh api yang paling besar dan diberi minum dari perasan penghuni neraka.” (At-Tirmidzi no. 2492)
*
Jika hari ini kita merasa lebih hebat daripada orang lain, ingatlah dari mana kita berasal.
Kita hanyalah setetes air yang hina, kita lahir dalam keadaan telanjang tidak mengetahui apa pun, kita hidup dengan ribuan kelemahan.
Apakah yang sebenarnya pantas kita sombongkan?
Ketampanan? Itu ciptaan Allah.
Ilmu? Itu pemberian Allah.
Harta? Itu titipan Allah.
Jabatan? Itu amanah Allah.
Bahkan nafas, yang kita hirup saat ini pun bukan milik kita. Semua adalah karunia dan milik Allah saja.
*
Pada hari manusia dibangkitkan nanti, tidak ada yang berdiri di hadapan Allah dengan membawa gelar, tidak datang dengan membawa jabatan, tidak datang dengan membawa harta/kekayaan. Kita datang hanyalah sebagai seorang hamba dengan amal dan ketakwaan.
Bahaya terbesar dunia bukanlah miskin, bukan pula kedudukan, tetapi memiliki hati yang isinya kesombongan.
Maka mintalah kepada Allah hati yang tunduk, ketika menerima kebenaran, mintalah kepada Allah kerendahan hati terhadap sesama manusia, dan mintalah kepada Allah mati dalam husnul khatimah.
Wallahu a’lam.
Bismillah.
Ada satu nikmat yang hampir setiap hari kita miliki, tetapi justru paling sering kita abaikan. Bukan harta, bukan jabatan, bukan kesehatan, bahkan bukan usia. Nikmat itu adalah kesempatan.
Banyak orang memiliki harta tetapi tidak memiliki kesempatan untuk menikmatinya.
Banyak orang memiliki ilmu tetapi tidak memiliki kesempatan untuk mengamalkannya.
Banyak orang ingin berubah menjadi lebih baik, tetapi tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Pada hakikatnya, hidup manusia adalah kumpulan kesempatan yang terus berkurang. Setiap detik yang berlalu bukan sekadar mendekatkan kita kepada masa depan, tetapi juga mendekatkan kita kepada pertemuan dengan Allah Azza wa Jalla.
Karena itulah para ulama salaf sangat menghargai waktu. Mereka memahami bahwa umur bukanlah sesuatu yang bertambah setiap hari, melainkan sesuatu yang berkurang setiap hari.
Ketika satu hari berlalu, sejatinya sebagian dari jatah kehidupan kita ikut berlalu. Yang lebih mengkhawatirkan, tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa banyak kesempatan yang masih tersisa untuk dirinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (Al-Hakim)
Hadits ini mengajarkan bahwa setiap kesempatan memiliki masa berlakunya.
Masa muda tidak akan bertahan selamanya. Kesehatan suatu hari dapat berubah menjadi sakit. Kekuatan akan berganti kelemahan. Waktu luang akan digantikan kesibukan. Dan kehidupan pada akhirnya akan berakhir dengan kematian. Betapa banyak manusia baru menyadari nilai sebuah nikmat ketika nikmat itu telah pergi.
Ketika sehat, mereka menunda amal. Ketika muda, mereka menunda belajar agama. Ketika lapang, mereka menunda sedekah. Ketika hidup, mereka menunda taubat. Padahal penyesalan terbesar sering kali bukan karena kita gagal melakukan sesuatu, melainkan karena kita terlambat melakukannya.
Di antara seluruh kesempatan yang Allah berikan, mungkin tidak ada yang lebih besar daripada kesempatan untuk bertaubat.
Banyak orang menganggap peluang terbesar dalam hidup adalah peluang bisnis, karier, investasi, atau pendidikan. Semua itu memang berharga. Namun bagi seorang mukmin, kesempatan terbesar adalah ketika Allah masih membuka pintu taubat untuk dirinya.
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (At-Tahrim: 8)
Selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan selama matahari belum terbit dari arah barat, pintu taubat masih terbuka. Inilah bentuk kasih sayang Allah yang luar biasa kepada hamba-Nya. Bahkan setelah berkali-kali bermaksiat, Allah masih memberi kesempatan untuk kembali.
Sayangnya, setan memiliki satu senjata yang sangat efektif untuk merusak manusia, yaitu membuat manusia menunda. Bukan melarang mereka berbuat baik, tetapi membuat mereka berkata, “Nanti.”
Nanti, kalau sudah tua. Nanti, kalau sudah menikah. Nanti, kalau sudah mapan. Nanti, kalau pekerjaan sudah stabil. Nanti, kalau urusan dunia sudah selesai.
Padahal tidak ada seorang pun yang dijamin akan sampai kepada kata “nanti”. Yang kita miliki hanyalah hari ini. Esok hari masih berupa harapan, bukan kepastian.
Sebagian orang juga enggan bertaubat karena merasa dosanya terlalu banyak. Mereka merasa telah terlalu jauh dari Allah. Mereka merasa terlalu kotor untuk kembali. Padahal Allah justru memanggil orang-orang yang paling banyak dosanya dengan panggilan yang penuh kasih sayang:
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (Az-Zumar: 53)
Ayat ini mengajarkan bahwa masalah terbesar bukanlah banyaknya dosa, melainkan ketika seseorang berputus asa dari rahmat Allah. Tidak ada manusia yang terlalu berdosa untuk mendapatkan ampunan Allah. Yang berbahaya adalah ketika kesempatan bertaubat masih terbuka, tetapi ia memilih untuk menundanya hingga kesempatan itu dicabut. Karena itu Al-Qur’an tidak mengajarkan kita untuk menunggu.
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Ali ’Imran: 133)
Perhatikan, bahwa Allah menggunakan perintah untuk bersegera. Bukan menunda, bukan menunggu, bukan pula menyiapkan alasan. Sebab jalan menuju Allah bukanlah jalan bagi orang-orang yang suka menunggu waktu yang sempurna. Waktu yang sempurna sering kali tidak pernah datang. Yang ada hanyalah kesempatan yang harus segera dimanfaatkan sebelum hilang.
Suatu hari nanti akan datang satu waktu ketika seluruh kesempatan berakhir. Tidak ada lagi tambahan umur. Tidak ada lagi kesempatan memperbaiki kesalahan. Tidak ada lagi kesempatan menambah amal. Tidak ada lagi kesempatan bertaubat. Allah menggambarkan penyesalan manusia ketika kematian datang:
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Ya Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” (Al-Mu’minun: 99–100)
Namun saat itu semuanya telah selesai. Pintu telah ditutup.
Mungkin hari ini kita masih sehat.
Masih mampu bersujud. Masih kuat berjalan ke masjid. Masih mampu membaca Al-Qur’an. Masih mampu meminta ampun.
Masih mampu memperbaiki hubungan yang rusak.
Masih mampu meninggalkan dosa yang selama ini dipertahankan. Semua itu adalah kesempatan yang tidak boleh dianggap biasa.
Karena sesungguhnya orang yang paling beruntung bukanlah orang yang memiliki kesempatan paling banyak, melainkan orang yang paling baik dalam memanfaatkan kesempatan yang Allah berikan kepadanya.
Dan suatu hari nanti, tanpa bisa ditunda dan tanpa bisa dinegosiasikan, pintu itu akan ditutup. Ketika hari itu tiba, tidak ada lagi kata “besok”.
Tidak ada lagi kata “nanti”. Tidak ada lagi kata “suatu saat”.
Wallahu a’lam.
“Yang terpenting bukan bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita mengakhiri.”
Bismillah.
Ketika masih muda, manusia sibuk memikirkan bagaimana memulai.
Memulai sekolah.
Memulai karier.
Memulai bisnis.
Memulai keluarga.
Memulai perjalanan menuju impian yang diinginkan.
Lalu setelah dewasa, fokusnya bergeser.
Bagaimana menjadi sukses.
Bagaimana memiliki rumah.
Bagaimana memperbesar usaha.
Bagaimana meningkatkan penghasilan.
Bagaimana memperoleh pengakuan.
Bagaimana meninggalkan warisan.
Hampir seluruh hidup manusia dihabiskan untuk memikirkan perjalanan. Namun sangat sedikit yang benar-benar memikirkan garis akhirnya. Padahal satu hari nanti, seluruh perjalanan itu akan berhenti.
Suatu hari akan ada rapat terakhir yang kita hadiri.
Ada telepon terakhir yang kita angkat.
Ada transaksi terakhir yang kita lakukan.
Ada perjalanan terakhir yang kita tempuh.
Ada shalat terakhir yang kita kerjakan.
Ada senyum terakhir yang kita berikan kepada keluarga.
Dan ada satu malam yang tidak pernah kita sadari sebelumnya sebagai malam terakhir kehidupan kita.
Karena pada akhirnya…
This Is The End.
Semua akan berakhir.
Jabatan berakhir.
Bisnis berakhir.
Popularitas berakhir.
Kekayaan berakhir.
Karier berakhir.
Pertemanan berakhir.
Bahkan umur yang selama ini kita gunakan untuk mengejar semuanya juga berakhir.
Yang tersisa hanyalah apa yang kita bawa menghadap Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian).” (Al-Hijr: 99)
Ayat ini seakan mengingatkan bahwa target seorang Muslim bukan sekadar menjadi baik pada satu fase kehidupan. Targetnya adalah tetap berada di jalan Allah hingga napas terakhir. Karena dalam Islam, kemenangan tidak ditentukan di tengah perjalanan. Kemenangan ditentukan di garis akhir.
*****
Yang Menakutkan Bukan Kematian
Banyak orang takut mati. Padahal seorang mukmin tidak seharusnya (paling) takut kepada kematian. Karena kematian hanyalah pintu.
Yang lebih menakutkan adalah bagaimana keadaan kita saat melewati pintu tersebut.
Bukan kapan kita mati.
Tetapi dalam keadaan apa kita mati.
Bukan berapa usia kita.
Tetapi bagaimana akhir kisah kita.
Karena tidak ada seorang pun yang dijamin husnul khatimah.
Tidak ada yang bisa berkata:
“Saya sudah cukup lama dalam kebaikan.”
Tidak ada yang bisa berkata:
“Saya sudah aman.”
Para ulama salaf justru sangat takut terhadap akhir kehidupan mereka.
Sebab mereka memahami bahwa hati manusia berada di antara jari-jari Allah. Allah membolak-balikkan hati sesuai kehendak-Nya. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam sering berdoa:
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Jika Rasulullah saja memperbanyak doa seperti ini, lalu bagaimana dengan kita?
*****
Surprise yang Sering Tidak Disadari
Banyak orang takut kehilangan pekerjaan.
Sedikit yang takut kehilangan iman.
Banyak orang takut kehilangan bisnis.
Sedikit yang takut kehilangan istiqamah.
Banyak orang takut kehilangan harta.
Sedikit yang takut kehilangan tauhid.
Padahal kehilangan pekerjaan hanya memengaruhi dunia.
Kehilangan harta hanya memengaruhi beberapa tahun kehidupan.
Tetapi kehilangan iman menjelang kematian dapat memengaruhi kehidupan yang tidak akan pernah berakhir. Inilah yang sering tidak disadari manusia.
Kita begitu sibuk menjaga aset.
Namun kurang menjaga hati.
Kita begitu khawatir terhadap dunia. Namun kurang khawatir terhadap akhir perjalanan menuju akhirat.
*****
Bekal Terbesar: Tauhid
Ketika seseorang meninggalkan dunia, seluruh identitas duniawinya terlepas.
Jabatan tidak ikut masuk ke dalam kubur.
Gelar tidak ikut masuk ke dalam kubur.
Followers tidak ikut masuk ke dalam kubur.
Portofolio tidak ikut masuk ke dalam kubur.
Yang paling berharga adalah tauhid.
Karena Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nisa: 48)
Maka ketakutan terbesar seorang mukmin bukanlah miskin.
Bukan gagal.
Bukan kehilangan dunia.
Tetapi meninggal dalam keadaan membawa sesuatu yang merusak tauhidnya.
Bekal Kedua: Mengikuti Sunnah
Niat baik saja tidak cukup, karena Allah tidak hanya memerintahkan kita niat tanpa ikhtiar dan ibadah. Allah juga memerintahkan kita mengikuti Rasul-Nya.
Seorang mukmin harus terus belajar.
Bukan agar terlihat alim.
Tetapi agar ibadahnya diterima.
Karena pada Hari Kiamat nanti yang kita butuhkan bukan banyaknya amal, melainkan amal yang diterima.
*****
Bahaya yang Sering Diremehkan: Su’ul Khatimah
Ada sesuatu yang membuat para ulama menangis ketika membahas kematian.
Yaitu kemungkinan berakhir buruk, “Su’ul khatimah”. Bukan karena Allah zalim, tetapi karena manusia sering meremehkan dosa.
Meremehkan maksiat.
Meremehkan kesombongan.
Meremehkan riya’.
Meremehkan syubhat.
Padahal kebiasaan yang dipelihara selama bertahun-tahun sering kali muncul kembali pada penghujung kehidupan.
Karena itu para salaf tidak hanya berdoa agar diberi hidayah. Mereka berdoa agar diwafatkan di atas hidayah.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (Ali ’Imran: 102).
Allah tidak mengatakan: “Jadilah Muslim.” Karena banyak orang menjadi Muslim.
Tetapi Allah berkata: “Jangan mati kecuali dalam keadaan Muslim.” Karena yang menentukan adalah akhirnya.
*****
Istiqamah Sampai Garis Akhir
Setan tidak terlalu peduli berapa lama seseorang berada di jalan kebenaranx yanf ia inginkan adalah satu hal: Keluar dari jalan itu sebelum meninggal.
Karena itu, kemenangan sejati bukan ketika seseorang hijrah, bukan ketika seseorang mulai semangat, bukan ketika seseorang menangis saat mendengar kajian.
Kemenangan sejati adalah ketika seseorang tetap berada di atas jalan Allah hingga akhir napasnya.
Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda:
“Amal itu tergantung pada penutupnya.”
Betapa banyak orang yang memulai dengan baik, tetapi tidak semua mampu mengakhiri dengan baik.
****
THIS IS THE END
Bayangkan suatu hari nanti.
Tubuh kita terbujur diam.
Semua aktivitas berhenti.
Semua target selesai.
Semua rapat berakhir.
Semua proyek ditinggalkan.
Semua rekening ditinggalkan.
Semua properti ditinggalkan.
Semua yang dahulu membuat kita cemas tiba-tiba tidak lagi penting.
Tidak ada yang bertanya berapa followers kita.
Tidak ada yang bertanya berapa omzet perusahaan kita.
Tidak ada yang bertanya berapa aset yang kita miliki.
Yang menjadi pertanyaan hanyalah:
Apakah kita membawa tauhid?
Apakah kita menjaga sunnah?
Apakah kita menjaga iman?
Apakah kita istiqamah sampai akhir?
Pada hari itu seluruh perjalanan hidup manusia diringkas menjadi satu pertanyaan sederhana:
“Bagaimana engkau menghadap Allah?”
Bukan bagaimana engkau memulai.
Bukan seberapa cepat engkau berlari.
Bukan seberapa tinggi engkau naik.
Bukan seberapa banyak yang engkau kumpulkan.
Tetapi…
Bagaimana engkau mengakhiri.
Karena pada akhirnya…
This Is The End.
Dan ketika akhir itu tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki.
Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali.
Tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang.
Maka selama pintu taubat masih terbuka, selama napas masih berhembus, selama kesempatan masih Allah berikan, persiapkanlah bekal terbaik. Karena sebaik-baik bekal adalah takwa dan sebaik-baik akhir adalah husnul khatimah.
Wallahu a’lam.
Bismillah.
Ketika mendengar istilah “elit global”, sebagian dari yang mendengarnya langsung membayangkan sebuah kelompok rahasia yang duduk di meja yang sama di balik layar dan mengendalikan seluruh dunia, sebagian lagi menganggap istilah tersebut tidak lebih dari teori konspirasi, padahal kenyataan sering kali berada di antara dua ekstrem tersebut.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam dunia modern terdapat individu, korporasi, lembaga, negara dan kelompok tertentu yang memiliki pengaruh jauh lebih besar dibandingkan manusia pada umumnya.
Mereka memiliki modal, mereka memiliki teknologi, mereka memiliki akses informasi, mereka memiliki jaringan kekuasaan, dan keputusan yang mereka buat dapat memengaruhi kehidupan jutaan bahkan miliaran manusia.
Perubahan suku bunga dapat memengaruhi perekonomian dunia, perubahan algoritma dapat memengaruhi arus informasi, perubahan kebijakan perdagangan dapat memengaruhi harga kebutuhan pokok, perubahan teknologi dapat mengubah cara manusia bekerja, belajar, bahkan berpikir. Semua hal ini adalah realitas yang tidak sulit untuk dilihat, namun sebagai seorang Muslim, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar
“Siapa yang paling berpengaruh di dunia?” Melainkan: “Apa yang Allah ingin kita pelajari dari semua ini?”
*****
FITNAH TERBESAR BELUM TENTU DATANG DARI LUAR
Ketika membahas pengaruh dunia, betapa banyak diantara kita terlalu fokus kepada faktor eksternal. Mereka membicarakan politik, membicarakan ekonomi, membicarakan peran media, membicarakan korporasi, membicarakan berbagai kekuatan yang memengaruhi kehidupan manusia.
Padahal Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia tidak selalu berada di luar dirinya. Sering kali musuh terbesar justru berada di dalam dirinya sendiri, semisal: Kebodohan, kesombongan, riya’, hasad, hawa nafsu, kecintaan pada dunia, dan keserakahan.
Karena itu, seandainya seluruh sistem dunia berubah menjadi sempurna, manusia tetap dapat tersesat apabila tidak mampu mengendalikan dirinya. Sebaliknya, meskipun dunia dipenuhi berbagai fitnah, seorang mukmin tetap dapat menjaga imannya apabila Allah memberinya hidayah dan ia berusaha menjaganya.
Inilah sebabnya mengapa para ulama lebih banyak berbicara tentang perbaikan diri dibandingkan perbaikan dunia. Karena kerusakan dunia sering kali berawal dari kerusakan dalam diri dan dalam hati manusia.
*****
Sebagian orang mempertanyakan: “Mengapa Allah membiarkan berbagai ketidakadilan, tekanan ekonomi, propaganda, dan fitnah dunia terjadi?”
Jawabannya tidak jauh berbeda dengan pertanyaan:
“Mengapa Allah membiarkan setan tetap hidup?”
Padahal, jawabannya tentu saja
Allah mampu menghilangkan setan. Allah mampu menghilangkan seluruh bentuk fitnah. Allah mampu menjadikan kehidupan manusia jauh lebih mudah. Namun Allah menghendaki adanya ujian, karena melalui ujian itulah tampak siapa yang jujur dalam keimanannya.
Di tengah budaya konsumtif, seorang mukmin belajar qana’ah, di tengah budaya pamer, seorang mukmin belajar ikhlas, di tengah tekanan hidup, seorang mukmin belajar tawakal, di tengah ketidakpastian, seorang mukmin belajar husnuzan kepada Allah.
Seorang mukmin tidak melihat fitnah dunia hanya sebagai ancaman. Namun dia juga mampu melihatnya sebagai “ladang pahala”.
*****
Kesalahan yang sering terjadi adalah memberikan “value” yang berlebihan kepada kekuatan manusia.
Ketika seseorang terlalu lama memperhatikan berbagai kekuatan dunia, perlahan ia mulai merasa bahwa masa depan manusia sepenuhnya berada di tangan mereka, seolah-olah mereka mampu menentukan segalanya, padahal kenyataannya tidak demikian.
Mereka mungkin memiliki rencana.
Tetapi mereka tidak menguasai hasil.
Mereka mungkin memiliki strategi.
Tetapi mereka tidak menguasai takdir.
Mereka mungkin memiliki kekuatan.
Tetapi mereka tidak menguasai kehidupan dan kematian.
Mereka mungkin dapat memengaruhi manusia. Tetapi mereka tidak menguasai hati manusia.
Allah berfirman:
“Mereka membuat rencana, dan Allah pun membuat rencana. Dan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana.” (Ali ’Imran: 54)
Ayat ini tidak mengingkari adanya strategi manusia, namun ayat ini mengajarkan bahwa seluruh strategi manusia tetap berada di bawah kekuasaan Allah. Mereka hanya mampu berusaha, namun Allah yang menentukan hasil akhirnya.
Allah berfirman:
“Kamu mengira mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah-belah.” (Al-Hasyr: 14)
Ayat ini turun dalam konteks tertentu pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, namun para ulama mengambil pelajaran umum bahwa kekuatan yang tampak besar dari luar belum tentu sesolid yang terlihat.
*****
Sejarah menunjukkan bahwa banyak kekuatan besar tampak kokoh dari luar tetapi rapuh di dalam. Banyak Kerajaan runtuh, banyak Imperium hancur, banyak perusahaan raksasa bangkrut, banyak tokoh berpengaruh kehilangan kekuasaannya. Allah bahkan mengingatkan bahwa kekuatan yang seakan terlihat bersatu, belum tentu benar-benar bersatu.
Karena manusia memiliki kepentingan, memiliki ambisi, memiliki persaingan, dan memiliki banyak kelemahan. Oleh sebab itu, seorang mukmin tidak mudah silau oleh penampilan kekuatan dunia. Melainkan seharusnya dia mampu memahami bahwa seluruh makhluk pada hakikatnya lemah di hadapan Allah.
Orang yang hanya melihat dunia melalui politik akan merasa takut kepada penguasa. Orang yang hanya melihat dunia melalui ekonomi akan merasa takut kepada pemilik modal. Orang yang hanya melihat dunia melalui teori konspirasi akan merasa takut kepada kelompok-kelompok berpengaruh. Tetapi orang yang melihat dunia dengan cahaya tauhid akan menyadari sesuatu yang lebih besar.
Mereka mungkin memiliki kekayaan.
Tetapi Allah adalah Ar-Razzaq.
Mereka mungkin memiliki kekuasaan.
Tetapi Allah adalah Malikul Mulk.
Mereka mungkin memiliki media.
Tetapi Allah menguasai langit dan bumi.
Mereka mungkin memiliki pengaruh. Tetapi tidak satu pun pengaruh bekerja tanpa izin Allah.
Karena itu tauhid bukan sekadar keyakinan teologis, karena tauhid adalah cara memandang dunia. Tauhid membebaskan manusia dari ketakutan berlebihan kepada sesama manusia. Tauhid mengembalikan hati kepada tempat bergantung yang benar.
*****
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah:
“Siapa yang menguasai ekonomi dunia?” Bukan pula: “Siapa yang mengendalikan media?” Dan bukan: “Siapa yang paling berpengaruh di planet ini?”
Karena pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Apakah hati kita masih dikuasai oleh Allah, atau sudah dikuasai oleh dunia?”
Karena selama hati masih bergantung kepada Allah, berbagai fitnah dunia masih dapat dihadapi. Namun, ketika hati sudah bergantung kepada dunia, maka seseorang telah kalah bahkan sebelum ujian itu dimulai.
Maka tugas seorang mukmin bukan menghabiskan hidupnya untuk menebak-nebak siapa yang mengendalikan dunia. Tugas seorang mukmin adalah memperkuat iman, menjaga hati, memperbaiki amal, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sebab pada Hari Kiamat nanti, yang akan ditanya bukan seberapa banyak teori yang kita ketahui tentang elit global. Yang akan ditanya adalah *iman* kita. Shalat kita, Amanah kita, Akhlak kita, serta bagaimana kita menjalani kehidupan yang Allah titipkan kepada kita.
Karena pada akhirnya, sejarah dunia bukanlah kisah tentang siapa yang paling kaya atau paling berkuasa. Sejarah dunia adalah kisah tentang bagaimana Allah menjalankan kehendak-Nya atas seluruh makhluk-Nya, dimana pada akhirnya, bukan mereka yang menentukan akhir perjalanan kita.
Wallahu a’lam.